7.03.2015

Cadangkan Saja Messi!

Tak bisa dipungkiri, titik balik kebangkitan Manchester United musim lalu terjadi karena kartu merah Angel Di Maria saat pertandingan FA Cup vs Arsenal. Kartu merah yang pada awalnya disayangkan tapi menjadi berkah bagi United.

Dengan absennya Di Maria, harus ada pemain lain yang menggantikannya di sayap kiri padahal sebelumnya ia terus dimainkan. Muncul lah 1 dari 3 Unholy Trinity United, Ashley Young, yang hingga akhir musim terus memainkan peran kunci menyisir sayap kiri United. Hasilnya tak main-main. Spurs, Liverpool dan bahkan Manchester City ditumbangkan hingga United berhasil mengunci 1 tiket UCL 2015/2016.

Periode setelah kartu merah itu, meskipun telah selesai hukumannya Di Maria tetap dicadangkan dan menjadi supersub. Ia bahkan menyumbangkan beberapa assist yang dikonversi menjadi gol indah oleh Mata vs Liverpool dan Rooney vs Aston Villa. Tapi permainan United menjadi lebih cair dan efektif karena tak terpusat di Di Maria yang ketika mendapat bola malah sering lepas bolanya entah karena salah umpan atau kalah secara fisik padahal dirinya sangat diharapkan membangkitkan permainan United seperti yang dilakukannya bersama Real Madrid pada 2013/2014. Statistik akhir Di Maria akhirnya tercatat 3 gol dan 11 assist. Not bad.

-------------------------------------------

Selama ini di kesebelasan negara (sangara) Argentina, Messi terus menjadi pemain inti dan pusat permainan dengan harapan ia bisa memberikan kontribusi magisnya seperti yang terjadi ketika ia bermain dengan Barcelona selama ini. Catatannya di Argentina tak buruk-buruk amat memang dengan 46 gol dari 101 penampilan tapi apakah penampilannya maksimal? Semua pastinya menjawab "tidak maksimal" meski mendapat 4 gelar MVP dalam 5 match terakhirnya bersama sangara Argentina. Sebagai “Dewa” “yang datang dari dunia lain” penampilannya tak tergolong maksimal dan tak juga mengangkat permainan sangara Argentina.
Messi Struggling with Argentina NT

Messi menjadi korban dari ke"dewa"annya sendiri. Dikarenakan dirinya begitu ditakuti, perhatian semua tim lawan menjadi "bagaimana cara menghentikan Messi" dan karenanya ia selalu dijaga ketat. Bagaimana pun penjagaan lawan pada Messi tetap saja Messi gotta be Messi, kan?

Jika kita menilik kembali apa yang terjadi dengan Di Maria dengan Manchester United-nya, maka cadangkan saja Messi!

Terus dimainkannya Messi membuat potensi beberapa pemain lain (yang tak kalah bagusnya) terpendam. Contohnya bila Messi benar dicadangkan dan tetap menggunakan 4-3-3 maka kemungkinan posisi yang ditinggalkan Messi akan diisi Javier Pastore yang bersama PSG tampil gemilang di posisi yang sama. Bisa juga menggunakan Lavezzi atau Lamela. Tak menutup peluang mereka bisa menjadi Podolski-nya Argentina*. Lalu di Midfield bisa menggunakan Ever Banega yang baru saja menjuarai UEFA Cup bersama Sevilla atau Gago yang kini berseragam Boca Junior. Atau bahkan kalau berani variasi ke 4-4-2 (pada dasarnya bukan saat yang tepat, sih) bisa memainkan duet Aguero dengan Higuain atau Tevez di depan.

Pada dasarnya Argentina sebelum masuk ke Copa sudah bermain tanpa Messi di pertandingan uji coba terakhir melawan Bolivia dan hasilnya mereka menang besar 5-0. Memang Bolivia bukan tim kuat, tapi tetap saja, kan?

Efek dalam Pertandingan

Secara permainan, sangara Argentina pasti tidak akan berubah banyak karena memang skuad yang dimiliki sangat mumpuni. Justru, seperti yang tadi sudah diuraikan, mungkin Argentina akan lebih menyeramkan lagi.  Masalah justru akan muncul bagi tim lawan. Kenapa?

Tak lain dan tak bukan, tim lawan mulai dari Manager sampai pemain (terutama Defender) pasti bingung karena Messi justru tidak dimainkan padahal strategi utama mereka pasti adalah bagaimana cara mematikan Messi. Pastinya akan muncul keraguan bagi tim lawan untuk bermain di menit-menit awal dan pada titik ini adalah celah bagi Argentina mencuri gol cepat.

Bahkan bila tim lawan malah senang karena Messi tidak dimainkan maka mereka akan terdorong untuk lebih berani menyerang karena toh tak ada sang Alien yang memaksa mereka bertahan lebih dalam. Maka dalam hal ini, setidaknya bek sayap kiri lawan akan lebih sering maju dan meninggalkan lubang kosong. Bayangkan saja apa yang akan terjadi.

Pelatih lawan pun akan menjadi waswas kapan Messi akan dimainkan. Ketika sudah dimainkan (anggaplah menit 60-70an) maka stamina pemain bertahan lawan sudah terkuras habis dan akan lebih mudah bagi Messi melakukan pekerjaannya kemudian menyegel kemenangan Argentina.

Masalah Messi adalah kapten sangara Argentina mungkin satu factor yang membuat ide ini sulit terwujud. Namun Mascherano, yang merupakan kapten sebelum Messi, masih menjadi andalan lini tengah Argentina dan bahkan sering memberi instruksi taktik selain dari Tata Martino sendiri. Di partai vs Bolivia sendiri Di Maria yang menjadi kapten. Kalau Tata Martino mau sedikit bertaruh dengan timnya, bisa saja sebenarnya kan?
-----------------------------------------------------

Bagaimanapun juga 4 gelar Man of the Match dalam 5 pertandingan terakhir bukan hal sembarangan dan mungkin memang hanya Alien yang bisa mencapainya. Tapi akan sangat menarik jika Messi benar-benar dicadangkan.

Pada akhirnya memang tidak ada pemain yang lebih besar dari tim.



2 comments:

  1. Super sekali pak bos artikelnya!

    ReplyDelete
  2. Luar biasa! Sangat membuka pikiran. Coba kirim linknya ke tata martino bro

    ReplyDelete