Tak bisa dipungkiri, titik balik kebangkitan Manchester
United musim lalu terjadi karena kartu merah Angel Di Maria saat pertandingan
FA Cup vs Arsenal. Kartu merah yang pada awalnya disayangkan tapi menjadi
berkah bagi United.
Dengan absennya Di Maria, harus ada pemain lain yang
menggantikannya di sayap kiri padahal sebelumnya ia terus dimainkan. Muncul lah
1 dari 3 Unholy Trinity United, Ashley Young, yang hingga akhir musim terus
memainkan peran kunci menyisir sayap kiri United. Hasilnya tak main-main.
Spurs, Liverpool dan bahkan Manchester City ditumbangkan hingga United berhasil
mengunci 1 tiket UCL 2015/2016.
Periode setelah kartu merah itu, meskipun telah selesai
hukumannya Di Maria tetap dicadangkan dan menjadi supersub. Ia bahkan menyumbangkan
beberapa assist yang dikonversi menjadi gol indah oleh Mata vs Liverpool dan
Rooney vs Aston Villa. Tapi permainan United menjadi lebih cair dan efektif
karena tak terpusat di Di Maria yang ketika mendapat bola malah sering lepas
bolanya entah karena salah umpan atau kalah secara fisik padahal dirinya sangat
diharapkan membangkitkan permainan United seperti yang dilakukannya bersama
Real Madrid pada 2013/2014. Statistik akhir Di Maria akhirnya tercatat 3 gol dan 11 assist. Not bad.
-------------------------------------------
Selama ini di kesebelasan negara (sangara) Argentina, Messi terus menjadi pemain
inti dan pusat permainan dengan harapan ia bisa memberikan kontribusi magisnya
seperti yang terjadi ketika ia bermain dengan Barcelona selama ini. Catatannya di
Argentina tak buruk-buruk amat memang dengan 46 gol dari 101 penampilan tapi
apakah penampilannya maksimal? Semua pastinya menjawab "tidak maksimal" meski mendapat 4
gelar MVP dalam 5 match terakhirnya bersama sangara Argentina. Sebagai “Dewa” “yang
datang dari dunia lain” penampilannya tak tergolong maksimal dan tak juga
mengangkat permainan sangara Argentina.
![]() |
| Messi Struggling with Argentina NT |
Messi menjadi korban dari ke"dewa"annya sendiri. Dikarenakan dirinya begitu ditakuti, perhatian semua tim lawan menjadi "bagaimana cara menghentikan Messi" dan karenanya ia selalu dijaga ketat. Bagaimana pun penjagaan lawan pada Messi tetap saja Messi gotta be Messi, kan?
Jika kita menilik kembali apa yang terjadi dengan Di Maria
dengan Manchester United-nya, maka cadangkan saja Messi!
Terus dimainkannya Messi membuat potensi beberapa pemain
lain (yang tak kalah bagusnya) terpendam. Contohnya bila Messi benar
dicadangkan dan tetap menggunakan 4-3-3 maka kemungkinan posisi yang
ditinggalkan Messi akan diisi Javier Pastore yang bersama PSG tampil gemilang
di posisi yang sama. Bisa juga menggunakan Lavezzi atau Lamela. Tak menutup
peluang mereka bisa menjadi Podolski-nya Argentina*. Lalu di Midfield bisa menggunakan Ever Banega yang baru saja
menjuarai UEFA Cup bersama Sevilla atau Gago yang kini berseragam Boca Junior.
Atau bahkan kalau berani variasi ke 4-4-2 (pada dasarnya bukan saat yang tepat, sih) bisa memainkan duet Aguero dengan
Higuain atau Tevez di depan.
Pada dasarnya Argentina sebelum masuk ke Copa sudah bermain
tanpa Messi di pertandingan uji coba terakhir melawan Bolivia dan hasilnya
mereka menang besar 5-0. Memang Bolivia bukan tim kuat, tapi tetap saja, kan?
Efek dalam
Pertandingan
Secara permainan, sangara Argentina pasti tidak akan berubah
banyak karena memang skuad yang dimiliki sangat mumpuni. Justru, seperti yang
tadi sudah diuraikan, mungkin Argentina akan lebih menyeramkan lagi. Masalah justru akan muncul bagi tim lawan.
Kenapa?
Tak lain dan tak bukan, tim lawan mulai dari Manager sampai
pemain (terutama Defender) pasti bingung karena Messi justru tidak dimainkan padahal strategi utama
mereka pasti adalah bagaimana cara mematikan Messi. Pastinya akan muncul
keraguan bagi tim lawan untuk bermain di menit-menit awal dan pada titik ini
adalah celah bagi Argentina mencuri gol cepat.
Bahkan bila tim lawan malah senang karena Messi tidak
dimainkan maka mereka akan terdorong untuk lebih berani menyerang karena toh tak ada sang Alien yang memaksa
mereka bertahan lebih dalam. Maka dalam hal ini, setidaknya bek sayap kiri lawan akan
lebih sering maju dan meninggalkan lubang kosong. Bayangkan saja apa yang akan
terjadi.
Pelatih lawan pun akan menjadi waswas kapan Messi akan
dimainkan. Ketika sudah dimainkan (anggaplah menit 60-70an) maka stamina pemain
bertahan lawan sudah terkuras habis dan akan lebih mudah bagi Messi melakukan
pekerjaannya kemudian menyegel kemenangan Argentina.
Masalah Messi adalah kapten sangara Argentina mungkin satu
factor yang membuat ide ini sulit terwujud. Namun Mascherano, yang merupakan
kapten sebelum Messi, masih menjadi andalan lini tengah Argentina dan bahkan sering memberi instruksi taktik selain dari Tata Martino sendiri. Di partai vs
Bolivia sendiri Di Maria yang menjadi kapten. Kalau Tata Martino mau sedikit
bertaruh dengan timnya, bisa saja sebenarnya kan?
-----------------------------------------------------
Bagaimanapun juga 4 gelar Man of the Match dalam 5
pertandingan terakhir bukan hal sembarangan dan mungkin memang hanya Alien yang
bisa mencapainya. Tapi akan sangat menarik jika Messi benar-benar dicadangkan.
Pada akhirnya memang tidak ada pemain yang lebih besar dari tim.

Super sekali pak bos artikelnya!
ReplyDeleteLuar biasa! Sangat membuka pikiran. Coba kirim linknya ke tata martino bro
ReplyDelete