“Bro”
“yo”
“udah lewat 10 hari pertama Ramadhan enak ye, mau ke Masjid buat Sholat Tarawih pas adzan isya juga masih bisa masuk. Malah kadang bisa maju sampe shaf ke-2”
“iya juga ya. Padahal pas malem pertama Ramadhan gue sampe nggak bisa masuk ke Masjidnya garagara dateng pas banget adzan. Pulang lagi gue akhirnya hahahah subhanallah”
“sekarang aja udah gini padahal belum selesai Ramadhan, gimana nanti kalo udah lewat bulan Ramadhannya?”
“namanya juga orang Indonesia, orangnya musiman, MGL”
“yo”
“udah lewat 10 hari pertama Ramadhan enak ye, mau ke Masjid buat Sholat Tarawih pas adzan isya juga masih bisa masuk. Malah kadang bisa maju sampe shaf ke-2”
“iya juga ya. Padahal pas malem pertama Ramadhan gue sampe nggak bisa masuk ke Masjidnya garagara dateng pas banget adzan. Pulang lagi gue akhirnya hahahah subhanallah”
“sekarang aja udah gini padahal belum selesai Ramadhan, gimana nanti kalo udah lewat bulan Ramadhannya?”
“namanya juga orang Indonesia, orangnya musiman, MGL”
--------------------------------------------------
Bulan Ramadhan, seperti yang kita tahu, adalah bulan penuh
keberkahan. Ibadah yang sifatnya Sunnah nilai kebaikannya jadi sama dengan yang
wajib, belum lagi The Legend of Lailatul
Qadr Night yang teramat sangat “menggiurkan”. Bahkan rang yang tadinya
malas sholat fardhu di Masjid (atau bahkan yang malas sholat sama sekali)
tiba-tiba jadi rajin ke Masjid. Hari pertama Ramadhan bahkan Masjid di dekat
rumah yang tadinya mungkin hanya terisi 2-3 shaf saat Shalat Isya mendadak jadi
penuh sesak, setidaknya sampai sekitar 10 hari kedua Ramadhan.
Semua orang terus berlomba-lomba mengerjakan kebaikan (istilah
kerennya Fastabiqul Khairat). Tapi
menurut pengalaman yang sudah-sudah, habis bulan Ramadhan maka habis sudah tren
mengerjakan kebaikannya. Mungkin tak sepenuhnya, tapi perlahan nan pasti kualitasnya
terus terdegradasi. BUT is that how’s it supposed to be?
----------------------------
Seorang atlet, katakanlah atlet bulu tangkis, sebelum menghadapi
kejuaraan/kompetisi pasti ada persiapan intensifnya dulu. Kalau yang Timnas ada
Pelatnasnya di Cipayung. Dalam Training
Camp semua pemain pasti berlatih sekeras mungkin demi menghadapi kejuaraan
menghadapi lawan yang tangguh. Selagi latihan semua teknik dilatih, diberi
nutrisi maksimal, uang saku, apapun itu yang mendukung. Tapi prestasi apapun
yang dicapai selama Training Camp
tentunya tak akan ada orang yang peduli. Toh
tak banyak gangguannya. Kalau berhasil berprestasi saat kejuaraannya, baru
orang ‘peduli’. Jika ketika di kejuaraan itu Ia gagal, maka pasti ada yang
salah dengan Training Camp-nya.
Bukankah begitu?
------------------------------
Mari kita analogikan Ramadhan dengan Training Camp, bulan-bulan lainnya dengan kejuaraan.
Bukankah saat Ramadhan tak ada gangguan berarti dalam
beribadah seperti Atlet dalam Training
Camp? Ya. Setan-setan ditahan keberadaannya katanya kan
Bukankah saat Ramadhan kita diberikan bonus-bonus seperti
saat Training Camp diberi nutrisi
dst? Ya.
Maka ketika kita analogikan lebih lanjut bukankah seharusnya
apa-apa yang kita lakukan di bulan Ramadhan diimplementasikan pada bulan-bulan
lain seperti seorang Atlet mempraktekkan hasil latihannya dalam kejuaraan?
Oleh karena itu, janganlah kita hanya kuat beribadah ketika
bulan Ramadhan saja. Kalau hanya saat bulan Ramadhan saja kita rajin, bukankah
berarti Ramadhan kita tak bermakna? Janganlah kita menjadi “orang Indonesia
yang orangnya musiman” dan berbangga dengan berapa banyak amalan yang kita
kerjakan, berapa banyak kita berinfaq, berapa kali kita khatam, atau malah berbangga
dengan berapa “balapan khatam” yang kita menangkan karena semua akan percuma bila setelah selesai bulan Ramadhan kembali hilang amalan-amalan baiknya.
Mari kita maknai bulan Ramadhan ini semaksimal mungkin dan
menjadikan kita siap menghadapi godaan-godaan yang luar biasa hebatnya setelah
ini karena sesungguhnya ujian
sesungguhnya bukanlah di bulan Ramadhan melainkan bulan-bulan setelah ini
hingga kita bertemu Ramadhan selanjutnya (tentunya, bila masih diberi
kesempatan oleh Allah swt). This is not the end.
“Cause you don’t know what you’ve got until it’s gone”
((Special thanks to kak Ilham :):) ))
No comments:
Post a Comment