“Life is
simple. So just keep everything simple” –Anonymous on TED Talk
Mungkin
anda sudah sering mendengar kutipan itu dari siapa pun. Kasarnya, jangan
memperrumit suatu masalah. Tapi saya yakin sekali, entah itu bagi anda yang
sudah sering disirami kalimat itu, atau yang menyampaikannya sekalipun pasti
belum mengaplikasikan kemudahan dalam hidup itu secara nyata. Tapi mengapa?
Dari apa
yang ada di sekeliling saya, ketika seseorang sudah memiliki target jelas yang
ingin dicapai, ia akan mencoba dengan keras untuk mencapainya dengan cara
sesingkat mungkin (perhatikan, sesingkat mungkin bukan sesimple mungkin).
Sesingkat mungkin dapat berarti singkat secara waktu, ataupun menyingkat secara
metode penyelesaiannya. Dalam kondisi mencoba sesingkat mungkin itu, pilihan
baginya hanya 2; antara langsung menyerah karena ternyata penyelesaiannya tidak
semudah yang anda bayangkan, atau sebaliknya relentlessly lanjut terus apapun rintangannya karena berasumsi
itulah cara terbaik (pasti anda sering juga merasakannya kan?). Padahal dengan terus menerus bekerja relentlessly itu malah menambah beban
kerja dan pikiran di saat yang sama, apalagi manusia millenial tentunya tidak
akan hanya memikirkan satu hal saja (Intermezzo oot: ingatlah bahwa anda
manusia, bukan smartphone yang bisa multitasking),
dan sesungguhnya mungkin disanalah titik kesalahan kita semua. Kok bisa?
Berikut analoginya.
Alkisah di
suatu hari, saya pergi ke sebuah game
center (semacam Timezone) dengan seseorang. Setelah membeli koin untuk
bermain, dia langsung mengajak saya bermain mini-basket. Masalahnya adalah saya
sangat payah dalam hal bola basket. Pada akhirnya saya hanya ikut saja dan
melihat dia bermain, namun tentunya jiwa kompetitif itu tidak akan mati
sehingga akhirnya saya pun memutuskan untuk bermain juga. Aturannya adalah
minimal anda harus mencetak 40 poin dalam waktu 1 menit untuk lolos ke tahap
selanjutnya. Ketika saya lihat ia bermain, semua tampak sangat mudah dan
skornya di tahap awal selalu menembus angka 100. Kemudian dengan kemampuan saya
yang minim, saya hanya dapat mencapai poin 26. Setelah diulang pun poin yang
saya dapatkan tidak berbeda jauh. Lalu di akhir percobaan selanjutnya ia pun
memperhatikan cara bermain saya dan berusaha menemukan apa yang membuat basket
menjadi hal yang sangat sulit bagi saya. Di suatu titik, akhirnya dia menyadari
bahwa saya mencoba memasukkan bola dengan cara sesingkat mungkin, yakni dengan
mencondongkan badan ke depan dan menjulurkan tangan sedekat mungkin pada ring.
Karena pada saat itu saya tidak tahu apa yang harus dilakukan maka saya hanya
melanjutkan dengan cara yang sama. Lalu akhirnya dia pun menarik baju saya dari
belakang dan memaksa saya untuk sedikit lebih rileks ketika melempar, dan ya,
akhirnya poin demi poin berhasil saya raih. Meski pada akhirnya saya tetap
tidak lolos ke tahap selanjutnya, tentunya ada pelajaran yang dapat kita ambil,
bukan?
Ya,
kemudian saya baru menyadari bahwa metode yang selalu saya gunakan dari tahun
ke tahun untuk setiap masalah yang saya hadapi adalah sama, yakni mencoba
menyelesaikannya sesingkat mungkin. Ketika di Osis SMA misalnya, saya
terus-menerus mencoba menyelesaikan segala permasalahan tanpa kenal lelah,
berjalan kesana kemari, namun pada akhirnya hasilnya tidak seberapa maksimal
dan setelah acaranya selesai pun saya hanya dapat lelahnya saja. Ketika sudah pindah organisasi pun saya
tetap saja, berjalan relentlessly
kesana kemari, seakan-akan ada badai puting beliung di sekitar saya (anda
pernah merasa seperti itu?).
Tapi kemudian di suatu titik saya sadar juga,
bahwa sesungguhnya keadaan di sekitar kita tidak separah itu. Bahwa
sesungguhnya tenaga saya untuk berjalan kesana kemari itu akan terbuang sia-sia, karena memang sesungguhnya kondisinya tidak seburuk itu dan tidak benar-benar
menuntut saya untuk terus berjalan berkeliling.
Lalu apa
sebenarnya yang bisa kita lakukan? Sesungguhnya intinya adalah kembali lagi ke kutipan awal, buat semuanya
tetap simple, dan kerjakan dengan sesimple mungkin. Ketika anda tanpa sadar panik dan merasa kondisi di sekitar
anda sangat kacau, berhentilah sejenak. Tarik nafas dan tenangkan diri anda,
baru pikirkan apa sebenarnya kondisi yang ada di sekitar anda dengan tenang dan
baru kemudian pikirkan solusinya. Dengan begitu saya yakin anda akan dapat
menyelesaikan permasalahan anda dengan lebih baik, dan yang terpenting lebih
efektif. Kok bisa? Ya bisa dong, karena anda memikirkan solusinya
dengan “sadar” dan tanpa perlu memikirkan solusi untuk permasalahan yang
sebenarnya tidak pernah ada.
Bila apapun
metode yang sudah anda lakukan ternyata permasalahan anda tetap tidak bisa
terselesaikan, ingatlah Sang Pencipta, Allah Swt. Mungkin anda sempat lalai dan
belum bertaubat, maka bertaubatlah. Jika tadinya anda sama sekali tidak memohon
bantuannya, mohonkanlah. Sesungguhnya pertolongan Allah itu nyata, dan
sesungguhnya Ia pun tidak akan memberi beban melebihi kesanggupan seorang
makhluk.
Jadi,
pertanyaan untuk anda adalah: “apakah anda sudah menyelesaikan permasalahan
anda sesimple mungkin?”
