4.07.2017

Life has Always been Simple, Don't You Realize It?

“Life is simple. So just keep everything simple” –Anonymous on TED Talk

Mungkin anda sudah sering mendengar kutipan itu dari siapa pun. Kasarnya, jangan memperrumit suatu masalah. Tapi saya yakin sekali, entah itu bagi anda yang sudah sering disirami kalimat itu, atau yang menyampaikannya sekalipun pasti belum mengaplikasikan kemudahan dalam hidup itu secara nyata. Tapi mengapa?

Dari apa yang ada di sekeliling saya, ketika seseorang sudah memiliki target jelas yang ingin dicapai, ia akan mencoba dengan keras untuk mencapainya dengan cara sesingkat mungkin (perhatikan, sesingkat mungkin bukan sesimple mungkin). Sesingkat mungkin dapat berarti singkat secara waktu, ataupun menyingkat secara metode penyelesaiannya. Dalam kondisi mencoba sesingkat mungkin itu, pilihan baginya hanya 2; antara langsung menyerah karena ternyata penyelesaiannya tidak semudah yang anda bayangkan, atau sebaliknya relentlessly lanjut terus apapun rintangannya karena berasumsi itulah cara terbaik (pasti anda sering juga merasakannya kan?).  Padahal dengan terus menerus bekerja relentlessly itu malah menambah beban kerja dan pikiran di saat yang sama, apalagi manusia millenial tentunya tidak akan hanya memikirkan satu hal saja (Intermezzo oot: ingatlah bahwa anda manusia, bukan smartphone yang bisa multitasking), dan sesungguhnya mungkin disanalah titik kesalahan kita semua. Kok bisa? Berikut analoginya.

Alkisah di suatu hari, saya pergi ke sebuah game center (semacam Timezone) dengan seseorang. Setelah membeli koin untuk bermain, dia langsung mengajak saya bermain mini-basket. Masalahnya adalah saya sangat payah dalam hal bola basket. Pada akhirnya saya hanya ikut saja dan melihat dia bermain, namun tentunya jiwa kompetitif itu tidak akan mati sehingga akhirnya saya pun memutuskan untuk bermain juga. Aturannya adalah minimal anda harus mencetak 40 poin dalam waktu 1 menit untuk lolos ke tahap selanjutnya. Ketika saya lihat ia bermain, semua tampak sangat mudah dan skornya di tahap awal selalu menembus angka 100. Kemudian dengan kemampuan saya yang minim, saya hanya dapat mencapai poin 26. Setelah diulang pun poin yang saya dapatkan tidak berbeda jauh. Lalu di akhir percobaan selanjutnya ia pun memperhatikan cara bermain saya dan berusaha menemukan apa yang membuat basket menjadi hal yang sangat sulit bagi saya. Di suatu titik, akhirnya dia menyadari bahwa saya mencoba memasukkan bola dengan cara sesingkat mungkin, yakni dengan mencondongkan badan ke depan dan menjulurkan tangan sedekat mungkin pada ring. Karena pada saat itu saya tidak tahu apa yang harus dilakukan maka saya hanya melanjutkan dengan cara yang sama. Lalu akhirnya dia pun menarik baju saya dari belakang dan memaksa saya untuk sedikit lebih rileks ketika melempar, dan ya, akhirnya poin demi poin berhasil saya raih. Meski pada akhirnya saya tetap tidak lolos ke tahap selanjutnya, tentunya ada pelajaran yang dapat kita ambil, bukan?

Ya, kemudian saya baru menyadari bahwa metode yang selalu saya gunakan dari tahun ke tahun untuk setiap masalah yang saya hadapi adalah sama, yakni mencoba menyelesaikannya sesingkat mungkin. Ketika di Osis SMA misalnya, saya terus-menerus mencoba menyelesaikan segala permasalahan tanpa kenal lelah, berjalan kesana kemari, namun pada akhirnya hasilnya tidak seberapa maksimal dan setelah acaranya selesai pun saya hanya dapat lelahnya saja. Ketika sudah pindah organisasi pun saya tetap saja, berjalan relentlessly kesana kemari, seakan-akan ada badai puting beliung di sekitar saya (anda pernah merasa seperti itu?). 

Tapi kemudian di suatu titik saya sadar juga, bahwa sesungguhnya keadaan di sekitar kita tidak separah itu. Bahwa sesungguhnya tenaga saya untuk berjalan kesana kemari itu akan terbuang sia-sia, karena memang sesungguhnya kondisinya tidak seburuk itu dan tidak benar-benar menuntut saya untuk terus berjalan berkeliling.

Lalu apa sebenarnya yang bisa kita lakukan? Sesungguhnya intinya adalah kembali lagi ke kutipan awal, buat semuanya tetap simple, dan kerjakan dengan sesimple mungkin. Ketika anda tanpa sadar panik dan merasa kondisi di sekitar anda sangat kacau, berhentilah sejenak. Tarik nafas dan tenangkan diri anda, baru pikirkan apa sebenarnya kondisi yang ada di sekitar anda dengan tenang dan baru kemudian pikirkan solusinya. Dengan begitu saya yakin anda akan dapat menyelesaikan permasalahan anda dengan lebih baik, dan yang terpenting lebih efektif. Kok bisa? Ya bisa dong, karena anda memikirkan solusinya dengan “sadar” dan tanpa perlu memikirkan solusi untuk permasalahan yang sebenarnya tidak pernah ada.

Bila apapun metode yang sudah anda lakukan ternyata permasalahan anda tetap tidak bisa terselesaikan, ingatlah Sang Pencipta, Allah Swt. Mungkin anda sempat lalai dan belum bertaubat, maka bertaubatlah. Jika tadinya anda sama sekali tidak memohon bantuannya, mohonkanlah. Sesungguhnya pertolongan Allah itu nyata, dan sesungguhnya Ia pun tidak akan memberi beban melebihi kesanggupan seorang makhluk.


Jadi, pertanyaan untuk anda adalah: “apakah anda sudah menyelesaikan permasalahan anda sesimple mungkin?”

3.26.2017

Do People Really Feel Something is Trendy? Or were People Forced to Feel So?

Di zaman milenial ini, trend sangat mudah berubah. Trend pada dasarnya adalah suatu kecenderungan mayoritas, entah itu dalam hal menggunakan sesuatu, mendengarkan sesuatu, atau bahkan memikirkan sesuatu. Oleh karena itu trend tidak hanya kita identikkan dengan fashion saja, melainkan juga ada pada industri musik dengan istilah Hits. Sesuai definisi yang diajukan pertama, yakni trend sebagai kecenderungan mayoritas, banyak orang yang sifatnya hanya ikut-ikutan saja mengikuti apa yang sedang in terutama di lingkungan sosialnya. Tapi sebenarnya siapa yang paling berperan dalam pembentukan sebuah trend? Do people really feel something is trendy? Or were people forced to feel so?

Jawabannya sebenarnya bisa iya, bisa juga tidak, karena pada akhirnya semua orang punya pendapat dan argumennya masing-masing. Yha, masalah agama yang satu saja banyak yang punya pendapat masing-masing, apalagi hal seremeh trend, kan? Tapi bila kita lihat seksama, karena banyak orang yang menganggap trend ini hal yang terlalu remeh untuk dipikirkan, sebaliknya ada sekelompok orang yang justru memanfaatkannya untuk keuntungan mereka sendiri. Permasalahannya adalah apakah anda sadar akan hal itu?

Mungkin secara fashion kita tidak bisa melihat kecenderungan suatu trend dengan mudah bila kita bukan berada pada lingkungan sosial dengan tingkat ekonomi yang tinggi, apalagi di lingkungan pelajar atau mahasiswa. Namun hal yang bisa kita lihat secara real adalah pada industri musik karena music didengar semua orang secara merata. Bayangannya adalah seperti ini berikut ini:
Kondisinya adalah anda bukan penggemar penyanyi dengan musik organik seperti Ed Sheeran dan Jason Mraz, dan kemudian Ed Sheeran merilis sebuah lagu, sebut saja Shape of You (saya ambil yang saat ini sedang hits). Pertanyaan saya adalah ketika anda pertama kali mendengarkan lagunya di radio, apakah anda menyukai lagunya? Tentunya tidak karena anda bukan penggemar musik organik. Namun ketika anda pulang kerja/kuliah di mobil dan satu-satunya hiburan anda adalah radio dan radio itu terus memainkan lagu Shape of You karena (katanya) sedang hits, mungkin sekali-dua kali anda biasa saja. Namun ketika selama seminggu lagu itu terus diputar secara berkala, anda akan mulai ingat beberapa bagian liriknya, kemudian bagian-bagiannya, dalam skala ekstrem mungkin anda akan hafal lagunya. Kemudian tiba-tiba rekan anda memainkan lagunya dan ternyata anda bisa menyanyikan lagunya, then BOOM! Seketika anda akan terus mengingat lagu itu dan, ya, lama-kelamaan anda akan (terpaksa) menyukai lagunya. Mari kita asumsikan ada 20.000 orang di Jakarta yang mengalami hal yang kurang lebih sama. Maka congratulations, Ed! Shape of You is officially a hit in Jakarta!

Luar biasa bukan? Buat anda yang belum percaya, coba dengarkan radio yang sama di jam yang sama dalam 3 hari berturut-turut. Niscaya anda akan menyadari bahwa sebenarnya daftar lagu yang akan diputar itu selalu sama, hanya urutannya yang berbeda. Hipotesis ini saya dasari dengan pernyataan oleh penyiar terkenal di New York, Elvis Duran. Ketika ia mewawancarai Chester Bennington (vokalis Linkin Park) pada Elvis Duran Show awal Februari 2017, Elvis berkata “I’ve been working here since 1988, so I’ve played some songs, and you know how we do it. We play them over and over and for a while there are rotations on the power so each ONE HOUR AND 20 MINUTE we play the SAME song”. Rekaman wawancaranya dapat anda dengarkan sendiri di Youtube dengan judul “Chester Bennington Chats About Linkin Parks New Single "Heavy" | Elvis Duran Show” pada menit ke 4:20 dan seterusnya. Tentunya hal itu berlaku luas tidak hanya pada radio di Amerika, namun juga di seluruh dunia. Kasarnya, anda telah dibrainwash secara tersirat oleh radio. Atau lebih tepatnya dalam konteks ini kita sebut media.

Chester Bennington on Elvis Duran Show 
Bila kita lihat lebih luas lagi, tentunya bukan hanya musik saja yang terpengaruh, bahkan hal ini pun dilakukan untuk produk-produk melalui iklan komersial, trend fasion melalui majalan (dan beberapa orang bayaran?), dan lain-lain yang ujungnya bermuara pada opini publik.  Saya pribadi yakin bahwa selama ini anda sudah tau bahwa media dikuasai oleh beberapa konglomerat dan banyak diantara mereka yang terjun juga ke dunia politik. Mungkin karena itu pula anda selalu menganggap media A selalu berpihak dan memberitakan yang baik-baik mengenai X saja, begitu seterusnya untuk seluruh media mainstream. Ada benarnya, tapi bila kita ingat kembali tinjauan kasus yang saya ajukan di atas, maka sebenarnya bukan hanya untuk media propaganda saja. Melainkan anda terus-menerus dibrainwash dan disetting sehingga pandangan anda mengenai isu A adalah seperti ini, pandangan anda mengenai si X adalah seperti itu. Oleh karena itu pembesar-pembesar pasti memiliki medianya sendiri.

Tentunya ada efek domino dari tersetting-nya pemikiran seseorang (dan pemikiran anda juga?). Misalkan itu terjadi pada anda, anda pasti akan membicarakannya dengan orang lain dalam obrolan ringan ataupun diskusi serius. Dari obrolan itu dapat diprediksi apa yang kemungkinan akan terjadi; keduanya bersepakat, atau justru keduanya menjadi berseberangan. Titik berbahayanya adalah ketika kedua pihak berseberangan, karena bila kita lihat lebih jauh lagi, justru dapat terjadi konflik horizontal. Nauzubillahimindzalik.

Oleh karena itulah media sangat penting perannya dalam zaman milenial ini dan mungkin karena itu pula semua pihak berlomba-lomba memunculkan medianya masing-masing, dari bentuk media massa yang resmi hingga channel youtube yang bisa semua orang akses kapan pun.

Pada akhirnya, ini semua hanyalah hipotesa saya selaku orang awam saja. Namun bisa anda pikirkan kembali, do people really feel something is trendy? Or were people forced to feel so?


3.19.2017

I'm Back!

What is up, guys!
It’s been really while since my last post on this blog, I know. I never expected that University life will get me this busy. But anyway, here I am. As I said on my first ever post, I had thoughts on mostly everything, I just had no time to type it down (or sometimes just too lazy to). However I thank god that I still had some time to discuss things with some good friends I’m close with and somehow in a moment they convinced me to just write things down so that other people can read it as well.

I’m currently studying on Faculty of Natural Sciences of Brawijaya University in Malang. Truth be told, basic theory of natural science was not really my thing back then on high school, even for now. My grades were not even that good. But what really caught my eyes to natural science is that you can always find moral value in it. Basically, if you see something (well, everything) in bigger picture, you will always find moral values. Always. And that will be my baseline for my upcoming comeback post.

As ever, gonna need feedbacks!

Adios