5.21.2019

Tentang Bahagia

Hi, everyone!

Rasanya udah lumayan lama sejak terakhir kali nulis sesuatu, haha. Terima kasih untuk kamu yang mendorongku untuk menulis sesuatu kembali.

——

Udah sejak lama, dia yang mendorongku untuk menulis kembali ini, menceritakan kerennya dan sebegitu berkesannya sebuah buku.

Totto-chan

Ndilalah ketika aku menuju Bandung, bukunya diberikan padaku (terima kasih yaa!! :D) dan sejujurnya, I am amazed.

Totto-Chan adalah sebuah buku sederhana, yang menceritakan kehidupan seorang bocah Jepang lugu.....terlalu lugu bahkan. Dia dikeluarkan dari sekolah karena dianggap mengganggu, tapi...entahlah. Contoh paling relatablenya adalah ketika dia terkesima dan sangat gembira dengan mejanya yang kalau dibuka ada lemarinya. Akhirnya dia selalu membuka-tutup meja itu, sampai dibilangin walikelasnya untuk tidak membuka-tutup meja kecuali ada yang perlu diambil. Akhirnya ketika dia mau menulis, dia mengeluarkan buku, lalu ditutup. Lalu dibuka untuk mengambil pensil, lalu ditutup. Lalu dia menulis dan menyengaja untuk salah, lalu dia buka mejanya untuk mengambil penghapus dan lalu ditutup. Begitu seterusnya hingga selesai menulis dan mengembalikan semua alat tulis ke dalam meja....satu per satu. Selain itu masih baaanyak lagi hal-hal “aneh” (atau unik?) yang dilakukan sama Totto Chan ini.

Bahkan ketika akhirnya Totto Chan pindah ke sekolah baru, hal-hal aneh yang membahagiakannya ini tambah banyak dan difasilitasi, malah, oleh Kepala Sekolahnya. Misalnya, Kepsek nya mengumumkan bahwa anak-anak seluruh sekolah akan berkemah. Dengan segala persiapan panik-panik ajaib anak-anak yang nggak pernah kemah ini, ternyata mereka diajak berkemah di.....dalam aula sekolah. Bangun tenda sama-sama, berkumpul dengan teman-teman, dan segala aktifitas bersama di dalam aula sekolah. And guess what? Everybody happy.

Well, itu kurang lebih gambaran sekilas dari 1/4 buku Totto Chan yang udah ku baca. Tapi makna dibalik kejadian-kejadian di dalam buku itu, banyak orang yang lupa. Bahwa sesungguhnya

Bahagia itu sesederhana itu

Bahagia itu bisa dicapai dengan sekedar menonton kembali kelakuan-kelakuan aneh Spongebob Squarepants. Bahagia juga bisa dicapai dengan naik motor keliling-keliling komplek (atau kota, kalo mau). Atau bahkan hanya sekedar menikmati waktu sore di bangku taman, juga bisa menjadi sangat menyenangkan. Bisa juga kayak kata orang-orang di Twitterworld; “Bukan tentang makan daging 225gr seharga 200rb, tapi makan lesehan di pinggir jalan bareng kamu”

Well, setidaknya bagiku. Dan banyak sekali hal-hal sederhana lainnya yang sebenarnya juga bisa membahagiakan bagimu. That, only you and He knows.

Kadang tidak mudah memang menemukan apa yang bisa membuatmu bahagia. Tapi ketika kamu sudah menemukannya, nggak perlu hold yourself backkarena alasan-alasan seperti

Nggak deh, anak kecil banget
Lapotapi”
“Harusnyaaku bisa melakukan hal yang lebih penting”

Percayalah, kadang kamu nggakperlu begitu memikirkannya seperti itu. Karena bagiku, what makes you happy might give you unexpected push to get on with life.

Tapi bagaimana pun, jangan lupa untuk tetap bijak dalam melakukannya ya! Jangan sampai ketinggalan kereta karena keasyikan nonton Detective Conan di TV, misalnya (😂)

So as the ending,
Just stay HAPPY! :D

Cheers!

——————
Epilog:

Kalau bahagia ku sih,
Kamu!

Hehe

12.29.2018

How to Love Yourself?

HAI!

Tulisan pertama setelah sekian lama, masih mencoba menajamkan kembali jemari-jemari kaku nan sering halu ini. Meski nggak bagus-bagus amat, semoga bisa menginspirasi ya!

------
How to Love Yourself?

Sebuah pertanyaan yang ketika aku terima.....ya susah-susah gampang untuk dijawab. Masalahnya adalah mendefinisikan love aja sulit jadi akhirnya mikirnya bisa sangat liar 😂 but for me, love is all about positivity, more specifically about caring and tender. Bentuknya? Ya bisa macem-macem. Bisa berbentuk sebuah pertanyaan seperti "apa kabar?", bisa berbentuk sebungkus roti yang dikasih secara cuma-cuma, bisa berbentuk nasi goreng dengan bumbu nggak mateng, atau bahkan bisa juga berbentuk sebuah senyum sederhana yang melegakan bagi orang yang diberikannya.

But anyway, before I go through my how-points, I need to point out that to love yourself is utterly important.......in some ways. Kenapa? Karena kadang ketika kamu mulai tidak menyayangi dirimu sendiri, dan perlahan-lahan sakit dan sakit dan sakit (secara fisik maupun mental), kamu nggak akan bisa lagi mengeluarkan versi teroptimal dari dirimu sendiri. Versi teroptimal dirimulah yang nantinya dapat memberimu kemampuan untuk mencapai apapun yang kamu mau. Kontribusi untuk lingkungan, belajar, kerja, nyanyi, baca, nulis atau bahkan main sekalipun. Kalo bukan versi teroptimal dirimu yang digunakan, ya otomatis hasilnya juga nggak akan seoptimal yang kamu harapkan. Remember Newton's 3rd law, action = reaction.

Let's go straight to my strategy! Menurutku, problematika ini bisa dilihat secara internal maupun eksternal.

Dari sisi internal alias diri kita sendiri, hal yang menurutku penting adalah to always have fun. Sering sekali kita terjebak di rutinitas yang melelahkan dan akhirnya merasa bahwa segala sesuatu yang kita jalankan adalah beban. But its actually not, if you have fun on what you do. Yang ku maksud dalam hal ini adalah cobalah untuk menikmati segala sesuatu yang kita kerjakan. Misalnya, ikut dalam proses lomba Paduan Suara adalah proses yang teramat sangat sangat sangat melelahkan dan menjemukan karena latihannya panjang, rutin, lagunya itu-itu aja dan kadang kita nggak suka sama lagunya juga. Tapi pada akhirnya, sebenernya selama ikut Paduan Suara itu kita ngapain? Ya nyanyi. Dan seharusnya nyanyi itu menyenangkan, kan? So make it fun, then. Realize it, and enjoy what you do. Dengan begitu maka rasa letih itu (meskipun nggak akan hilang sepenuhnya) tapi akan berkurang signifikan. Kok bisa? Ya karena sebenernya kalo kita lelah itu sebenernya lebih disebabkan oleh lelah di otak, bukan lelah di fisik. Manjakan otak kita dengan hal yang positif, maka hidup kita akan lebih nyaman. Hidup keseharian yang lebih nyamanlah yang kemudian akan membawa kita lebih tau sebenernya kita ini butuhnya apa sih supaya bisa kembali menjadi versi teroptimal dari diri kita sendiri.

Di samping to always have fun, secara pragmatis kita juga harus lebih peduli dengan diri kita sendiri. Karena pada akhirnya mau seriang apapun kita sehari-hari, tidak mungkin kita beraktifitas tanpa tubuh dalam kondisi baik, ya kan? Oleh karena itu, berikanlah segala sesuatu yang terbaik untuk keperluan kita. Makan lah dengan makanan terbaik, minum lah dengan cukup, istirahat sesuai yang dibutuhkan, porsi waktu kerja dan senang-senangnya juga diatur. Pada akhirnya meskipun memang keletihan fisik dsb nggak bisa sepenuhnya hilang, tapi bisa menimbulkan satu efek yang luar biasa penting ketika kita sedang letih. Yaitu...kelegaan.

Sekarang dari sisi eksternal. Bagiku, to always spread love to others is important. Kembali lagi ke Newton's 3rd Law, what you give is what you get. So spread love to others, then you will be loved. Kenapa dicintai orang lain juga penting? Karena kadang kita sendiri nggak tau apa yang bener-bener kita butuhkan dan terus menerus dicoba tapi tetep gabisa. Akhirnya? Malah capek sendiri. "I'm sick of being me", orang sering bilang. Maka hal yang bisa membuatmu merasa lebih baik adalah tentunya, ketika ada orang yang memperhatikan kita. Mungkin nggak semua orang bilang bahwa mereka butuh ini, tapi percayalah, pasti akan seneng kalo ada yang memperhatikan kita. Rasanya kita nggak sendirian, rasanya ada orang lain yang peduli sama kita. Ada energi positif yang kita dapatkan. Yaa setidaknya sebersit senyum dan ketenangan di hati lah ya. Maka supaya kita juga dicintai orang lain, spread love to others. Nggak usah susah-susah, tebar senyum ke polisi gopek (itulo, yang biasanya ada di pertigaan) aja udah bisa dihitung spread love kok.....buatku sih, at least. Dengan cara ini akhirnya kita bisa dikelilingi oleh orang-orang yang tidak ragu untuk memberikan kasih sayangnya untuk kita juga :D

Lastly, your relationship with The Creator. Really. Matter. Ngerti lah ya pasti, tapi bagi kebanyakan orang sulit untuk dioptimalkan. Kalo poin ini udah berjalan, seharusnya poin-poin lain yang sudah ku sampaikan sebelumnya pun otomatis berjalan karena bagiku, terutama di keyakinan yang ku peluk, agama bukan hanya tentang ritual, melainkan juga tentang cara hidup. Basically cara hidup terbaik yang bisa kita lakukan. Dari bagaimana kita merawat diri sendiri, hubungan sosial masyarakat, bahkan kalau lebih jauh lagi sampai politik dll. Maka ketika hubungan kita dengan Allah baik, segala hal lain pun akan terbawa menjadi lebih baik. Dia lah yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang. Dia pula lah yang mengetahui apa yang terbaik untuk kita, yang dicurahkan dalam bentuk nikmat-nikmatNya.

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. An Nahl: 18)

Itulah sekelumit cara untukmu agar dapat menyayangi dirimu sendiri! Pada akhirnya kamu juga bisa menemukan caramu sendiri dengan memahami lebih dalam tentang dirimu dan mengetahui apa saja yang kamu butuhkan untuk kemudian selalu mengeluarkan versi teroptimal dari dirimu sendiri. Tapi nyarinya jangan lama-lama ya! Cause no one loves you better than yourself and Allah. Kalo boleh sih, ditambah aku. Ehehe

Cheers!

SSA

6.04.2018

Petugas Parkir: Sebuah Sisi Lain


Hi, there!

Setelah sekian lama akhirnya bisa menyelesaikan sebuah tulisan lagi. Meskipun terkesan klise, tapi banyak orang yang masih belum menyadari sisi lain dari suatu hal, salah satunya dalam hal petugas parkir ini. Lama terngiang di kepala, and it's my take on the issue. Hope you enjoy!

-----------------------------------------------------

Malang adalah sebuah kota besar di Jawa Timur, Indonesia. Terletak sekitar 80 km ke selatan dari Surabaya, Malang dikenal sebagai salah satu tujuan wisata favorit di Jawa Timur dengan udaranya yang sejuk serta banyaknya objek wisata. Di samping itu, Malang juga merupakan salah satu kota yang dianggap oleh banyak pihak di seluruh Indonesia sebagai kota pendidikan. Hal ini tidak lepas dari banyaknya universitas ternama yang ada di kota Malang seperti Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang dan Universitas Muhammadiyah Malang.

Banyaknya jumlah universitas ini kemudian berakibat pada peningkatan jumlah penduduk kota Malang, baik yang tercatat maupun tidak tercata. Menurut Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil melalui Surya Malang pada Februari 2017, jumlah penduduk kota Malang yang tercatat meningkat 1,58% setiap tahun sehingga pada 2017 terdapat 895.387 orang. Jumlah ini belum lagi ditambah dengan mahasiswa perantau dari luar Malang yang jumlahnya cukup besar. Misalnya untuk Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang saja, rata-rata setiap tahunnya menerima 9000 - 10000 mahasiswa baru. Tentunya, hal ini berdampak pada jumlah kendaraan bermotor yang masuk ke kota Malang. Jumlah kendaraan yang meningkat ini pada akhirnya membuka banyak peluang pekerjaan, dari jasa purnajual kendaraan bermotor, petugas cuci kendaraan, hingga pekerjaan yang menjamur di seluruh penjuru kota, yakni petugas parkir.

Dengan membaca Peraturan Daerah Kota Malang No. 3 Tahun 2015 (klik disini), dapat kita ketahui bahwa keberadaan petugas parkir ini sendiri memang pada dasarnya legal. Tempat parkir di pinggir jalan sendiri dikenai retribusi Rp 2000,00 untuk sepeda motor dan Rp 3000,00 untuk mobil, sedangkan untuk tempat parkir insidentil dikenai retribusi Rp 3000,00 untuk sepeda motor dan Rp 5000,00 untuk mobil. Berdasarkan Perda tersebut, retribusi tersebut dikenakan saat diberikan tiket parkir. 

Biaya yang dikeluarkan tersebut yang sering sekali dikeluhkan, terutama oleh mahasiswa (dan oleh penulis sendiri, kadang) karena umumnya waktu yang dihabiskan di suatu tempat berbiaya parkir tersebut tidak terlalu lama atau bahkan dalam beberapa kasus hanya berhenti di tempat tersebut untuk membeli sesuatu yang harganya bahkan kurang dari biaya parkirnya. Akhirnya, petugas parkir pun menjadi sasaran hujat publik. Padahal ketika kita lihat dari sisi lain, peran yang dipegang oleh petugas parkir sendiri sangat besar.

Pertama, Jawa Timur termasuk Malang tergolong rawan dalam hal pencurian kendaraan bermotor (curanmor). Hadirnya petugas parkir menjadi solusi paling instan dari permasalahan ini. Menurut petugas keamanan di Universitas Brawijaya, pada dasarnya apabila suatu tempat dijaga secara jelas oleh petugas, pencuri kendaraan bermotor sudah akan merasa segan untuk melanjutkan aksinya. Meskipun di satu sisi petugas parkir tidak dapat dikatakan sebagai penjaga formal seperti petugas keamanan, namun tentunya tetap akan meningkatkan keamanan area parkir tersebut karena ada orang yang selalu berjaga.

Gambar: Malang Post
elain penjagaan yang diperlukan akibat ancaman curanmor yang cukup besar, kehadiran petugas parkir juga menyelesaiakan sebuah masalah yang kronis yakni parkir semrawut. Secara alamiah, manusia seperti yang dituliskan oleh Dan Brown dalam Inferno, akan selalu mencari kenikmatan dan menghindari kesengsaraan atau kesulitan. Dari keinginan manusia untuk terus mencari harta, memiliki pasangan yang diidam-idamkan, hingga mencari kenikmatan pada surga, serta banyak contoh lainnya. Akibatnya secara pragmatis manusia akan mengikuti apapun yang ia anggap benar untuk mendapatkan “kenikmatan” pada versinya masing-masing. Hal ini yang kemudian terbawa pada kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari dan ditambah dengan tingkat empati yang kurang terhadap satu sama lain berakibat pada aplikasi hal tersebut pada parkir.

Setiap pengendara pasti akan selalu mencari tempat yang dianggap paling pas untuk parkir dengan pertimbangan seperti lebih adem, lebih dekat dengan tujuan, dan lain-lain. Namun akhirnya tidak jarang pengendara kemudian memarkirkan kendaraannya secara sembarangan baik dalam hal posisi pemberhentiannya yang tak jarang menghalangi pintu atau tidak beraturan meskipun sudah ada pola yang dibuat untuk parkir. Akibatnya tempat parkir menjadi semrawut dan tidak enak dipandang sehingga memungkinkan orang yang awalnya berniat mampir sejenak mengurungkan niatnya. Lagi, datang lah petugas parkir sebagai pahlawan tanpa tanda jasa untuk setidaknya menata sementara kesemerawutan yang terjadi.

Tak dapat dipungkiri bahwa meskipun biaya parkir memang diamanatkan oleh Pemerintah Daerah, namun larinya uang retribusi parkir yang diberikan kepada petugas parkir tidak dapat diketahui secara pasti. Bahkan meskipun seharusnya seluruh retribusi parkir dibuktikan dengan pemberian karcis parkir, banyak petugas yang tidak mengindahkan hal tersebut dan tidak menggunakan tiket. Akhirnya keuntungan dari hasil parkir tersebut masuk ke kantong sendiri. Meskipun kejadian ini tidak diinginkan oleh semua orang dan bagi para pengendara dapat dianggap sebagai penyelewengan dan pemalakan, namun tak dapat dipungkiri pula bahwa hal ini membantu perekonomian keluarga tersebut. Anggap saja sebuah minimarket dihinggapi oleh 50 sepeda motor dalam sehari, maka petugas tersebut mengantongi Rp 100.000,00 dan dalam sebulan bisa mendapatkan Rp 3.000.000,00 yang bahkan melebihi Upah Minimum Regional Kota Malang 2018 yang sebesar Rp 2.470.00,00. Pada dasarnya hal ini pun perlu menjadi perhatian bagi Pemerintah Daerah untuk kemudian membukakan lapangan pekerjaan yang layak bagi masyarakatnya.

Hal-hal di atas pun seharusnya menjadi pemicu bagi kita, masyarakat sebangsa dan setanah air, untuk saling meningkatkan kualitas hidup masyarakat di lingkungan kita. Karena pada dasarnya hal-hal yang telah disebutkan sebelumnya dapat terselesaikan dengan sendirinya ketika tingkat ekonomi masyarakat meningkat. Dari faktor penghidupan, keamanan juga kemudian akan membaik seiring pola perilaku masyarakat dalam kehidupan sosial juga. Tentunya perubahan ini pun tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat.

Pada akhirnya, Soekarno – Hatta pasti akan selalu bersanding dengan gedung MPR/DPR-RI pada uang pecahan Rp 100.000,00. Maka dalam kehidupan ini pasti selalu ada sisi lain yang kadang sulit untuk dilihat dan dipahami, padahal perbedaan tersebut pastinya memiliki dampak tersendiri baik positif maupun negatif. Sejengkel-jengkelnya kita dengan petugas parkir, marilah kita tetap saling menghargai dan memahami satu sama lain J

Karena pada sejatinya, setiap terima kasih akan selalu terngiang dalam pikiran
Dan setiap senyum akan selalu berbekas dalam perasaan

4.01.2018

Kereta Cepat Indonesia, Perlukah? (Part 1)

Baru-baru ini masyarakat Indonesia dikagetkan dengan adanya berita Presiden Joko Widodo mempertanyakan kelanjutan proyek megatriliun kereta cepat Jakarta – Bandung yang pembangunannya dilakukan dengan kerjasama Tiongkok International Railway, Ltd dengan PT Pilar Sinergi BUMN yang merupakan konsorsium antara 4 BUMN; PT Wijaya Karya (pimpinan konsorsium), PT Kereta Api Indonesia, PT Jasa Marga dan PT Perkebunan Nusantara VIII berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) No. 107 Tahun 2015 tentang percepatan penyelenggaran prasarana dan sarana kereta cepat Jakarta – Bandung. Perencanaan pembangunan kereta ini juga sebenarnya telah masuk ke dalam dokumen rencana induk perkeretaapian nasional (RIPNAS 2030), yakni Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 43 Tahun 2011 tentang Rencana Induk Perkeretaapian Nasional.


Pada tahun 1964, Jepang, yang hampir 20 tahun sebelumnya mengalami salah satu fase terburuk dalam sejarahnya, merilis sebuah moda transportasi yang revolusioner yakni Shinkansen. Shinkansen adalah sebuah sistem kereta cepat yang ketika itu menghubungkan Tokyo dan Nagoya yang merupakan dua kota terbesar di Jepang. Hal yang membuatnya revolusioner adalah kecepatannya yang pada saat itu bisa mencapai 200 km/jam sehingga jarak 400 km dapat dicapai dalam waktu kurang dari dua jam. Adanya Shinkansen membuat banyak maskapai penerbangan gulung tikar, terutama pada maskapai yang menggantungkan pendapatannya pada jalur sibuk Tokyo-Nagoya. Moda transportasi kereta cepat seperti ini pun kemudian diadaptasi oleh banyak negara seperti Prancis dengan TGV, Jerman dengan ICE dan Tiongkok dengan High Speed Train.


Ketika kereta cepat Jakarta – Bandung mulai dicanangkan pembangunannya pada 2011, pihak Jepang menjadi pihak pertama yang tertarik menjadi investor dalam proyek tersebut sekaligus sebagai sarana promosi program investasi internasional Jepang. Pada 2011 itu juga kemudian Yachiyo Engineering Co, Ltd dan Japan International Consultants for Transportation, Ltd melaksanakan feasibility study (studi kelayakan) jalur kereta tersebut. Dalam rilis studinya pada 2012, pihak Jepang mengajukan rancangan pendanaannya kepada pemerintah Indonesia dengan sistem Business to Government yang berarti akan ada bantuan dana dari APBN Indonesia. Hal ini yang kemudian tidak disepakati oleh pemerintahan presiden Joko Widodo yang lebih cenderung pada sistem Business to Business yang berarti modal akan sepenuhnya dicarikan dari pihak swasta. Kebijakan ini yang kemudian menyebabkan pihak Tiongkok memenangkan tender pembangunannya pada 2015, mengalahkan Jepang yang telah melaksanakan studi kelayakan.


Peletakan batu pertama proyek yang bernilai investasi 74 Triliun Rupiah ini sendiri telah dilakukan pada 21 Januari 2016 di lahan perkebunan the Walini, Kabupaten Bandung Barat milik PT Perkebunan Nusantara VIII. Bagaimana pun, kontroversi mengenai pembangunan kereta cepat ini terus hidup. Salah satu kejanggalan awal yang ditemukan adalah bahwa ketika peletakan batu pertama ini dilaksanakan, pihak kontraktor belum mampu memenuhi 11 dokumen yang menjadi syarat pembangunan yang meliputi Desain Pengembangan, Ilustrasi Teknis, Data Lapangan dan spesifikasinya. Berdasarkan informasi dari media, izin pembangunan baru didapatkan untuk pembangunan 5 km awal dari keseluruhan proyek 144 km ini. Selain itu ada beberapa kejanggalan lain antara lain kebutuhan moda transportasi kereta cepat, kelayakan jalur yang direncanakan, dan kemungkinan load factor dari kereta cepat.


Salah satu kontroversi utama dalam pembangunan kereta ini adalah kelayakan jalur yang akan dilalui oleh kereta tersebut. Berdasarkan data dari studi kelayakan 2012, jalur Jakarta – Bandung memiliki elevasi yang sangat bergelombang dan menyebabkan perlunya banyak terowongan untuk kereta tersebut. Pihak Jepang pada dasarnya telah berpengalaman dalam menangani permasalahan kontur ini karena Jepang memiliki kontur wilayah yang serupa dengan Indonesia, yakni pegunungan. Pihak Tiongkok pun telah berpengalaman dalam pembangunan jalur kereta cepat Haikou-Sanya yang bahkan memiliki kondisi geologis yang lebih sulit. Namun Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) tetap memberi surat mengenai perlunya kewaspadaan pada daerah tersebut kepada Kementerian Perhubungan (Kemenhub).


Berdasarkan data Geologis, daerah di sepanjang jalur kereta cepat tersebut berdekatan dengan zona sumber gempa bumi yang berupa sesar aktif di daratan dan zona subduksi lempeng di Samudera Hindia. Menurut catatan historisnya, wilayah Jakarta dan Jawa Barat pun telah diguncang gempa yang signifikan dan merusak. Setidaknya, tanah pada jalur tersebut rentan bergeser. Hal ini pula yang terus menjadi kendala pada Tol Cipularang yang terus menerus mengalami anjlok. Untuk mengantisipasi hal yang lebih buruk, pihak BMKG dan peneliti dari ITB merekomendasikan diadakannya kajian seismologi teknik yang komprehensif dan diadakan survei Geofisika pada jalur tersebut sebelum dilaksanakan pembangunan agar dapat diketahui jalur yang cukup aman dan jalur kereta dapat dilengkapi Earthquake Early Warning System. Peresmian pembangunan sebelum adanya kajian ini menjadi pertanyaan dan kejanggalan tersendiri, karena pembangunannya menjadi terkesan terburu-buru padahal dana yang digunakan sangat besar.

3.04.2018

Sebuah Nama

Good evening, lads!
Pada malam hari ini, diri ini mendapatkan sebuah tantangan yang mendadak dari seseorang. Not bad, setidaknya ada dorongan untuk kemudian menulis sesuatu yang baru setelah sekian lama vakum.

-----------------------------------------------------------


And I don’t want the world to see me
Cause I don’t think that they’d understand
When everything’s meant to be broken
I just want you to know who I am

Sebuah refrain dari lagu yang sangat populer dari angkatan 90-an hingga sekarang. Satu hal yang menarik dari potongan lagu tersebut adalah bahwa tidak selamanya semua orang perlu mengenal kita, hanya perlu “kamu” untuk mengerti dan memahami. Bagaimana pun, konteks mengenal, mengerti dan memahami semuanya berangkat dari suatu hal yang sama, yakni rekognisi. Rekognisi dimulai dari suatu hal paling mendasar yang melekat pada manusia sejak hari-hari pertamanya terlahir ke dunia. Sebuah kata sederhana, Nama.

Menurut KBBI, nama berarti kata untuk menyebut atau memanggil orang (tempat, barang, binatang dan sebagainya) serta merupakan gelar dan sebutan. Tentunya banyak sekali hal yang melatarbelakangi pemberian sebuah nama. Nama bisa diilhami dari sosok yang sangat dikagumi, misalnya mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo. Menurut penuturan beliau, nama Gatot diberikan oleh ayahnya yang merupakan tentara dan diilhami dari sosok pemimpinnya yang kharismatik dan bernama “Gatot”. Selain itu dapat pula diilhami dari sifat yang diinginkan untuk ada pada sang anak, seperti “Ayu” atau “Arif”. Tak jarang pula suatu momen spesial dimasukkan pada nama, seperti halnya anak yang lahir pada bulan Ramadhan akan sangat umum memiliki kata “Ramadhan” dalam namanya. Di samping itu juga kadang hal-hal yang bersifat kultural dipertimbangkan seperti jumlah sapuan pada penulisan kanji di Jepang karena jumlah setiap sapuan penulisan memiliki makna yang berbeda. Apapun latar belakangnya, nama yang diberikan pastilah merupakan sebuah harapan dari orang tua kepada anaknya. Pertanyaannya adalah, apakah kita sudah memahami makna nama kita?

Pemahaman mengenai arti nama diri kita sendiri pada dasarnya sangat penting, dan seharusnya dalam kondisi ideal sangat berdampak pada kepribadian seseorang. Mengapa? Karena kata tersebut yang kemudian akan selalu kita gunakan dan kita dengar ketika kita berinteraksi dengan orang lain. Asumsikan bahwa dalam satu hari kita berinteraksi dengan sepuluh orang, maka pastilah sepuluh orang itu akan menyebut nama kita. Hal tersebut menyebabkan kata yang digunakan sebagai nama kita akan masuk pada otak alam bawah sadar, dan seperti halnya yang pernah dijelaskan pada artikel sebelumnya yang berjudul “Do People Really Feel Something is Trendy? Or were People Forced to Feel so?” bahwa ketika ada suatu hal yang secara rutin ditanamkan atau disampaikan maka hal tersebut akan menjadi doktrin. Contohnya nama saya, “Syafiq”,dalam bahasa Arab berarti penyayang. Maka setiap nama tersebut dipanggil atau disebutkan, secara otomatis akan terkirim pesan kepada sang pemilik nama bahwa “kamu adalah seorang penyayang!”. Hal yang sama terjadi pada setiap nama yang digunakan di seluruh dunia. Secara tidak langsung pengiriman pesan yang terjadi secara otomatis setiap harinya akan membentuk pribadi seseorang.

Berdasarkan pengalaman pribadi, meski tidak selamanya saya memikirkan makna dari nama saya sendiri namun tanpa disadari saya secara pribadi memiliki keinginan yang lebih untuk beraktifitas dalam organisasi pada bidang yang terkait dengan orang lain. Contohnya ketika aktif dalam kepengurusan Cientifico Choir, ketertarikan saya dari awal adalah pada dua bidang yang sangat terkait dengan orang lain yakni Keanggotaan dan Humas meskipun banyak orang di sekitar saya yang mengatakan bahwa saya secara pribadi adalah orang yang sangat kaku. Bahkan pada 2018 ini, ketika saya beraktifitas sebagai salah satu anggota DPM UB, saya mencondongkan diri untuk masuk pada Komisi Humas dan Kelembagaan yang memiliki keterkaitan sangat tinggi terhadap pihak eksternal dibanding Komisi lainnya dan kecondongan tersebut muncul dari awal pencalonan saya. Tentunya, kecondongan atau ketertarikan seperti itu tidak terbentuk dalam waktu yang singkat dan didasari oleh suatu hal, yang dalam hal ini kembali lagi merupakan doktrinasi akibat nama yang melekat pada diri kita.



Secara sederhana orang lain pun kemudian dapat menilai kepribadian seseorang dari nama yang melekat. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, nama seseorang akan berpengaruh pada kepribadian orang tersebut. Misalnya ketika berbicara dengan seseorang bernama “Arif” tentunya akan timbul bayangan bahwa “Arif” adalah orang yang bijak sesuai makna namanya. Meskipun kepribadian seseorang tidak selamanya timbul hanya dari namanya saja, tentunya sebuah nama akan memberi mindset tersendiri akan apa yang diekspektasikan dari orang tersebut. Nama-lah yang kemudian akan memengaruhi rekognisi seseorang terhadap kita, dan bagaimana cara orang lain menerima, mengerti dan memahami.

Tidaklah mengherankan bila pada akhirnya persoalan mengenai nama hingga disebutkan pada firman Allah Swt dalam Al-Qur’an yang terjemahannya sebagai berikut:
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim." (QS.Al-Hujurat:11)

Pada akhirnya, nama adalah suatu aspek penting dari manusia. Menggunakan kata yang dijadikan nama lah setiap hari seseorang akan dipanggil dan hal tersebut memiliki dampak secara kepribadian maupun bagaimana pihak luar memandangnya. Oleh karena itu, yuk pahami arti nama kita dan nantinya berikan nama terbaik kepada keturunan kita!



-----------------------------------------------------------
Song Lyrics by Goo Goo Dolls
Picture: http://chiefcustomerofficer.eu/tag/customer-interaction/

4.07.2017

Life has Always been Simple, Don't You Realize It?

“Life is simple. So just keep everything simple” –Anonymous on TED Talk

Mungkin anda sudah sering mendengar kutipan itu dari siapa pun. Kasarnya, jangan memperrumit suatu masalah. Tapi saya yakin sekali, entah itu bagi anda yang sudah sering disirami kalimat itu, atau yang menyampaikannya sekalipun pasti belum mengaplikasikan kemudahan dalam hidup itu secara nyata. Tapi mengapa?

Dari apa yang ada di sekeliling saya, ketika seseorang sudah memiliki target jelas yang ingin dicapai, ia akan mencoba dengan keras untuk mencapainya dengan cara sesingkat mungkin (perhatikan, sesingkat mungkin bukan sesimple mungkin). Sesingkat mungkin dapat berarti singkat secara waktu, ataupun menyingkat secara metode penyelesaiannya. Dalam kondisi mencoba sesingkat mungkin itu, pilihan baginya hanya 2; antara langsung menyerah karena ternyata penyelesaiannya tidak semudah yang anda bayangkan, atau sebaliknya relentlessly lanjut terus apapun rintangannya karena berasumsi itulah cara terbaik (pasti anda sering juga merasakannya kan?).  Padahal dengan terus menerus bekerja relentlessly itu malah menambah beban kerja dan pikiran di saat yang sama, apalagi manusia millenial tentunya tidak akan hanya memikirkan satu hal saja (Intermezzo oot: ingatlah bahwa anda manusia, bukan smartphone yang bisa multitasking), dan sesungguhnya mungkin disanalah titik kesalahan kita semua. Kok bisa? Berikut analoginya.

Alkisah di suatu hari, saya pergi ke sebuah game center (semacam Timezone) dengan seseorang. Setelah membeli koin untuk bermain, dia langsung mengajak saya bermain mini-basket. Masalahnya adalah saya sangat payah dalam hal bola basket. Pada akhirnya saya hanya ikut saja dan melihat dia bermain, namun tentunya jiwa kompetitif itu tidak akan mati sehingga akhirnya saya pun memutuskan untuk bermain juga. Aturannya adalah minimal anda harus mencetak 40 poin dalam waktu 1 menit untuk lolos ke tahap selanjutnya. Ketika saya lihat ia bermain, semua tampak sangat mudah dan skornya di tahap awal selalu menembus angka 100. Kemudian dengan kemampuan saya yang minim, saya hanya dapat mencapai poin 26. Setelah diulang pun poin yang saya dapatkan tidak berbeda jauh. Lalu di akhir percobaan selanjutnya ia pun memperhatikan cara bermain saya dan berusaha menemukan apa yang membuat basket menjadi hal yang sangat sulit bagi saya. Di suatu titik, akhirnya dia menyadari bahwa saya mencoba memasukkan bola dengan cara sesingkat mungkin, yakni dengan mencondongkan badan ke depan dan menjulurkan tangan sedekat mungkin pada ring. Karena pada saat itu saya tidak tahu apa yang harus dilakukan maka saya hanya melanjutkan dengan cara yang sama. Lalu akhirnya dia pun menarik baju saya dari belakang dan memaksa saya untuk sedikit lebih rileks ketika melempar, dan ya, akhirnya poin demi poin berhasil saya raih. Meski pada akhirnya saya tetap tidak lolos ke tahap selanjutnya, tentunya ada pelajaran yang dapat kita ambil, bukan?

Ya, kemudian saya baru menyadari bahwa metode yang selalu saya gunakan dari tahun ke tahun untuk setiap masalah yang saya hadapi adalah sama, yakni mencoba menyelesaikannya sesingkat mungkin. Ketika di Osis SMA misalnya, saya terus-menerus mencoba menyelesaikan segala permasalahan tanpa kenal lelah, berjalan kesana kemari, namun pada akhirnya hasilnya tidak seberapa maksimal dan setelah acaranya selesai pun saya hanya dapat lelahnya saja. Ketika sudah pindah organisasi pun saya tetap saja, berjalan relentlessly kesana kemari, seakan-akan ada badai puting beliung di sekitar saya (anda pernah merasa seperti itu?). 

Tapi kemudian di suatu titik saya sadar juga, bahwa sesungguhnya keadaan di sekitar kita tidak separah itu. Bahwa sesungguhnya tenaga saya untuk berjalan kesana kemari itu akan terbuang sia-sia, karena memang sesungguhnya kondisinya tidak seburuk itu dan tidak benar-benar menuntut saya untuk terus berjalan berkeliling.

Lalu apa sebenarnya yang bisa kita lakukan? Sesungguhnya intinya adalah kembali lagi ke kutipan awal, buat semuanya tetap simple, dan kerjakan dengan sesimple mungkin. Ketika anda tanpa sadar panik dan merasa kondisi di sekitar anda sangat kacau, berhentilah sejenak. Tarik nafas dan tenangkan diri anda, baru pikirkan apa sebenarnya kondisi yang ada di sekitar anda dengan tenang dan baru kemudian pikirkan solusinya. Dengan begitu saya yakin anda akan dapat menyelesaikan permasalahan anda dengan lebih baik, dan yang terpenting lebih efektif. Kok bisa? Ya bisa dong, karena anda memikirkan solusinya dengan “sadar” dan tanpa perlu memikirkan solusi untuk permasalahan yang sebenarnya tidak pernah ada.

Bila apapun metode yang sudah anda lakukan ternyata permasalahan anda tetap tidak bisa terselesaikan, ingatlah Sang Pencipta, Allah Swt. Mungkin anda sempat lalai dan belum bertaubat, maka bertaubatlah. Jika tadinya anda sama sekali tidak memohon bantuannya, mohonkanlah. Sesungguhnya pertolongan Allah itu nyata, dan sesungguhnya Ia pun tidak akan memberi beban melebihi kesanggupan seorang makhluk.


Jadi, pertanyaan untuk anda adalah: “apakah anda sudah menyelesaikan permasalahan anda sesimple mungkin?”

3.26.2017

Do People Really Feel Something is Trendy? Or were People Forced to Feel So?

Di zaman milenial ini, trend sangat mudah berubah. Trend pada dasarnya adalah suatu kecenderungan mayoritas, entah itu dalam hal menggunakan sesuatu, mendengarkan sesuatu, atau bahkan memikirkan sesuatu. Oleh karena itu trend tidak hanya kita identikkan dengan fashion saja, melainkan juga ada pada industri musik dengan istilah Hits. Sesuai definisi yang diajukan pertama, yakni trend sebagai kecenderungan mayoritas, banyak orang yang sifatnya hanya ikut-ikutan saja mengikuti apa yang sedang in terutama di lingkungan sosialnya. Tapi sebenarnya siapa yang paling berperan dalam pembentukan sebuah trend? Do people really feel something is trendy? Or were people forced to feel so?

Jawabannya sebenarnya bisa iya, bisa juga tidak, karena pada akhirnya semua orang punya pendapat dan argumennya masing-masing. Yha, masalah agama yang satu saja banyak yang punya pendapat masing-masing, apalagi hal seremeh trend, kan? Tapi bila kita lihat seksama, karena banyak orang yang menganggap trend ini hal yang terlalu remeh untuk dipikirkan, sebaliknya ada sekelompok orang yang justru memanfaatkannya untuk keuntungan mereka sendiri. Permasalahannya adalah apakah anda sadar akan hal itu?

Mungkin secara fashion kita tidak bisa melihat kecenderungan suatu trend dengan mudah bila kita bukan berada pada lingkungan sosial dengan tingkat ekonomi yang tinggi, apalagi di lingkungan pelajar atau mahasiswa. Namun hal yang bisa kita lihat secara real adalah pada industri musik karena music didengar semua orang secara merata. Bayangannya adalah seperti ini berikut ini:
Kondisinya adalah anda bukan penggemar penyanyi dengan musik organik seperti Ed Sheeran dan Jason Mraz, dan kemudian Ed Sheeran merilis sebuah lagu, sebut saja Shape of You (saya ambil yang saat ini sedang hits). Pertanyaan saya adalah ketika anda pertama kali mendengarkan lagunya di radio, apakah anda menyukai lagunya? Tentunya tidak karena anda bukan penggemar musik organik. Namun ketika anda pulang kerja/kuliah di mobil dan satu-satunya hiburan anda adalah radio dan radio itu terus memainkan lagu Shape of You karena (katanya) sedang hits, mungkin sekali-dua kali anda biasa saja. Namun ketika selama seminggu lagu itu terus diputar secara berkala, anda akan mulai ingat beberapa bagian liriknya, kemudian bagian-bagiannya, dalam skala ekstrem mungkin anda akan hafal lagunya. Kemudian tiba-tiba rekan anda memainkan lagunya dan ternyata anda bisa menyanyikan lagunya, then BOOM! Seketika anda akan terus mengingat lagu itu dan, ya, lama-kelamaan anda akan (terpaksa) menyukai lagunya. Mari kita asumsikan ada 20.000 orang di Jakarta yang mengalami hal yang kurang lebih sama. Maka congratulations, Ed! Shape of You is officially a hit in Jakarta!

Luar biasa bukan? Buat anda yang belum percaya, coba dengarkan radio yang sama di jam yang sama dalam 3 hari berturut-turut. Niscaya anda akan menyadari bahwa sebenarnya daftar lagu yang akan diputar itu selalu sama, hanya urutannya yang berbeda. Hipotesis ini saya dasari dengan pernyataan oleh penyiar terkenal di New York, Elvis Duran. Ketika ia mewawancarai Chester Bennington (vokalis Linkin Park) pada Elvis Duran Show awal Februari 2017, Elvis berkata “I’ve been working here since 1988, so I’ve played some songs, and you know how we do it. We play them over and over and for a while there are rotations on the power so each ONE HOUR AND 20 MINUTE we play the SAME song”. Rekaman wawancaranya dapat anda dengarkan sendiri di Youtube dengan judul “Chester Bennington Chats About Linkin Parks New Single "Heavy" | Elvis Duran Show” pada menit ke 4:20 dan seterusnya. Tentunya hal itu berlaku luas tidak hanya pada radio di Amerika, namun juga di seluruh dunia. Kasarnya, anda telah dibrainwash secara tersirat oleh radio. Atau lebih tepatnya dalam konteks ini kita sebut media.

Chester Bennington on Elvis Duran Show 
Bila kita lihat lebih luas lagi, tentunya bukan hanya musik saja yang terpengaruh, bahkan hal ini pun dilakukan untuk produk-produk melalui iklan komersial, trend fasion melalui majalan (dan beberapa orang bayaran?), dan lain-lain yang ujungnya bermuara pada opini publik.  Saya pribadi yakin bahwa selama ini anda sudah tau bahwa media dikuasai oleh beberapa konglomerat dan banyak diantara mereka yang terjun juga ke dunia politik. Mungkin karena itu pula anda selalu menganggap media A selalu berpihak dan memberitakan yang baik-baik mengenai X saja, begitu seterusnya untuk seluruh media mainstream. Ada benarnya, tapi bila kita ingat kembali tinjauan kasus yang saya ajukan di atas, maka sebenarnya bukan hanya untuk media propaganda saja. Melainkan anda terus-menerus dibrainwash dan disetting sehingga pandangan anda mengenai isu A adalah seperti ini, pandangan anda mengenai si X adalah seperti itu. Oleh karena itu pembesar-pembesar pasti memiliki medianya sendiri.

Tentunya ada efek domino dari tersetting-nya pemikiran seseorang (dan pemikiran anda juga?). Misalkan itu terjadi pada anda, anda pasti akan membicarakannya dengan orang lain dalam obrolan ringan ataupun diskusi serius. Dari obrolan itu dapat diprediksi apa yang kemungkinan akan terjadi; keduanya bersepakat, atau justru keduanya menjadi berseberangan. Titik berbahayanya adalah ketika kedua pihak berseberangan, karena bila kita lihat lebih jauh lagi, justru dapat terjadi konflik horizontal. Nauzubillahimindzalik.

Oleh karena itulah media sangat penting perannya dalam zaman milenial ini dan mungkin karena itu pula semua pihak berlomba-lomba memunculkan medianya masing-masing, dari bentuk media massa yang resmi hingga channel youtube yang bisa semua orang akses kapan pun.

Pada akhirnya, ini semua hanyalah hipotesa saya selaku orang awam saja. Namun bisa anda pikirkan kembali, do people really feel something is trendy? Or were people forced to feel so?