Di zaman
milenial ini, trend sangat mudah
berubah. Trend pada dasarnya adalah suatu kecenderungan mayoritas, entah itu
dalam hal menggunakan sesuatu, mendengarkan sesuatu, atau bahkan memikirkan
sesuatu. Oleh karena itu trend tidak
hanya kita identikkan dengan fashion saja, melainkan juga ada pada industri
musik dengan istilah Hits. Sesuai
definisi yang diajukan pertama, yakni trend sebagai kecenderungan mayoritas,
banyak orang yang sifatnya hanya ikut-ikutan saja mengikuti apa yang sedang in terutama di lingkungan sosialnya.
Tapi sebenarnya siapa yang paling berperan dalam pembentukan sebuah trend? Do people really feel something is trendy? Or were people forced to feel
so?
Jawabannya
sebenarnya bisa iya, bisa juga tidak, karena pada akhirnya semua orang punya pendapat dan
argumennya masing-masing. Yha,
masalah agama yang satu saja banyak yang punya pendapat masing-masing, apalagi
hal seremeh trend, kan? Tapi bila
kita lihat seksama, karena banyak orang yang menganggap trend ini hal yang terlalu remeh untuk dipikirkan, sebaliknya ada
sekelompok orang yang justru memanfaatkannya untuk keuntungan mereka sendiri.
Permasalahannya adalah apakah anda sadar akan hal itu?
Mungkin
secara fashion kita tidak bisa
melihat kecenderungan suatu trend
dengan mudah bila kita bukan berada pada lingkungan sosial dengan tingkat
ekonomi yang tinggi, apalagi di lingkungan pelajar atau mahasiswa. Namun hal
yang bisa kita lihat secara real adalah pada industri musik karena music
didengar semua orang secara merata. Bayangannya adalah seperti ini berikut ini:
Kondisinya
adalah anda bukan penggemar penyanyi dengan musik organik seperti Ed Sheeran
dan Jason Mraz, dan kemudian Ed Sheeran merilis sebuah lagu, sebut saja Shape of You (saya ambil yang saat ini
sedang hits). Pertanyaan saya adalah
ketika anda pertama kali mendengarkan lagunya di radio, apakah anda menyukai
lagunya? Tentunya tidak karena anda bukan penggemar musik organik. Namun ketika
anda pulang kerja/kuliah di mobil dan satu-satunya hiburan anda adalah radio
dan radio itu terus memainkan lagu Shape
of You karena (katanya) sedang hits, mungkin sekali-dua kali anda biasa
saja. Namun ketika selama seminggu lagu itu terus diputar secara berkala, anda
akan mulai ingat beberapa bagian liriknya, kemudian bagian-bagiannya, dalam
skala ekstrem mungkin anda akan hafal lagunya. Kemudian tiba-tiba rekan anda
memainkan lagunya dan ternyata anda bisa menyanyikan lagunya, then BOOM! Seketika anda akan terus
mengingat lagu itu dan, ya, lama-kelamaan anda akan (terpaksa) menyukai
lagunya. Mari kita asumsikan ada 20.000 orang di Jakarta yang mengalami hal
yang kurang lebih sama. Maka congratulations,
Ed! Shape of You is officially a hit in Jakarta!
Luar biasa
bukan? Buat anda yang belum percaya, coba dengarkan radio yang sama di jam yang
sama dalam 3 hari berturut-turut. Niscaya anda akan menyadari bahwa sebenarnya
daftar lagu yang akan diputar itu selalu sama, hanya urutannya yang berbeda. Hipotesis
ini saya dasari dengan pernyataan oleh penyiar terkenal di New York, Elvis
Duran. Ketika ia mewawancarai Chester Bennington (vokalis Linkin Park) pada
Elvis Duran Show awal Februari 2017, Elvis berkata “I’ve been working here since 1988, so I’ve played some songs, and you
know how we do it. We play them over and over and for a while there are
rotations on the power so each ONE HOUR AND 20 MINUTE we play the SAME song”.
Rekaman wawancaranya dapat anda dengarkan sendiri di Youtube dengan judul “Chester
Bennington Chats About Linkin Parks New Single "Heavy" | Elvis Duran
Show” pada menit
ke 4:20 dan seterusnya. Tentunya hal itu berlaku luas tidak hanya pada radio di
Amerika, namun juga di seluruh dunia. Kasarnya, anda telah dibrainwash secara tersirat oleh radio. Atau lebih
tepatnya dalam konteks ini kita sebut media.
![]() |
| Chester Bennington on Elvis Duran Show |
Bila kita
lihat lebih luas lagi, tentunya bukan hanya musik saja yang terpengaruh, bahkan
hal ini pun dilakukan untuk produk-produk melalui iklan komersial, trend fasion
melalui majalan (dan beberapa orang bayaran?), dan lain-lain yang ujungnya
bermuara pada opini publik. Saya pribadi
yakin bahwa selama ini anda sudah tau bahwa media dikuasai oleh beberapa
konglomerat dan banyak diantara mereka yang terjun juga ke dunia politik.
Mungkin karena itu pula anda selalu menganggap media A selalu berpihak dan
memberitakan yang baik-baik mengenai X saja, begitu seterusnya untuk seluruh
media mainstream. Ada benarnya, tapi
bila kita ingat kembali tinjauan kasus yang saya ajukan di atas, maka
sebenarnya bukan hanya untuk media propaganda saja. Melainkan anda
terus-menerus dibrainwash dan disetting sehingga pandangan anda mengenai
isu A adalah seperti ini, pandangan anda mengenai si X adalah seperti itu. Oleh
karena itu pembesar-pembesar pasti memiliki medianya sendiri.
Tentunya ada
efek domino dari tersetting-nya
pemikiran seseorang (dan pemikiran anda juga?). Misalkan itu terjadi pada anda, anda pasti akan membicarakannya
dengan orang lain dalam obrolan ringan ataupun diskusi serius. Dari obrolan itu
dapat diprediksi apa yang kemungkinan akan terjadi; keduanya bersepakat, atau
justru keduanya menjadi berseberangan. Titik berbahayanya adalah ketika kedua
pihak berseberangan, karena bila kita lihat lebih jauh lagi, justru dapat
terjadi konflik horizontal. Nauzubillahimindzalik.
Oleh karena itulah media sangat penting perannya dalam zaman milenial ini dan mungkin karena itu pula semua pihak berlomba-lomba memunculkan medianya masing-masing, dari bentuk media massa yang resmi hingga channel youtube yang bisa semua orang akses kapan pun.
Pada
akhirnya, ini semua hanyalah hipotesa saya selaku orang awam saja. Namun bisa
anda pikirkan kembali, do people really
feel something is trendy? Or were people forced to feel so?
