7.14.2015

Ramadhan: This is Not the End

“Bro”
“yo”
“udah lewat 10 hari pertama Ramadhan enak ye, mau ke Masjid buat Sholat Tarawih pas adzan isya juga masih bisa masuk. Malah kadang bisa maju sampe shaf ke-2”
“iya juga ya. Padahal pas malem pertama Ramadhan gue sampe nggak bisa masuk ke Masjidnya garagara dateng pas banget adzan. Pulang lagi gue akhirnya hahahah subhanallah”
“sekarang aja udah gini padahal belum selesai Ramadhan, gimana nanti kalo udah lewat bulan Ramadhannya?”
namanya juga orang Indonesia, orangnya musiman, MGL”

--------------------------------------------------
Bulan Ramadhan, seperti yang kita tahu, adalah bulan penuh keberkahan. Ibadah yang sifatnya Sunnah nilai kebaikannya jadi sama dengan yang wajib, belum lagi The Legend of Lailatul Qadr Night yang teramat sangat “menggiurkan”. Bahkan rang yang tadinya malas sholat fardhu di Masjid (atau bahkan yang malas sholat sama sekali) tiba-tiba jadi rajin ke Masjid. Hari pertama Ramadhan bahkan Masjid di dekat rumah yang tadinya mungkin hanya terisi 2-3 shaf saat Shalat Isya mendadak jadi penuh sesak, setidaknya sampai sekitar 10 hari kedua Ramadhan.

Semua orang terus berlomba-lomba mengerjakan kebaikan (istilah kerennya Fastabiqul Khairat). Tapi menurut pengalaman yang sudah-sudah, habis bulan Ramadhan maka habis sudah tren mengerjakan kebaikannya. Mungkin tak sepenuhnya, tapi perlahan nan pasti kualitasnya terus terdegradasi. BUT is that how’s it supposed to be?
----------------------------
Seorang atlet, katakanlah atlet bulu tangkis, sebelum menghadapi kejuaraan/kompetisi pasti ada persiapan intensifnya dulu. Kalau yang Timnas ada Pelatnasnya di Cipayung. Dalam Training Camp semua pemain pasti berlatih sekeras mungkin demi menghadapi kejuaraan menghadapi lawan yang tangguh. Selagi latihan semua teknik dilatih, diberi nutrisi maksimal, uang saku, apapun itu yang mendukung. Tapi prestasi apapun yang dicapai selama Training Camp tentunya tak akan ada orang yang peduli. Toh tak banyak gangguannya. Kalau berhasil berprestasi saat kejuaraannya, baru orang ‘peduli’. Jika ketika di kejuaraan itu Ia gagal, maka pasti ada yang salah dengan Training Camp-nya. Bukankah begitu?
------------------------------
Mari kita analogikan Ramadhan dengan Training Camp, bulan-bulan lainnya dengan kejuaraan.
Bukankah saat Ramadhan tak ada gangguan berarti dalam beribadah seperti Atlet dalam Training Camp? Ya. Setan-setan ditahan keberadaannya katanya kan
Bukankah saat Ramadhan kita diberikan bonus-bonus seperti saat Training Camp diberi nutrisi dst? Ya.
Maka ketika kita analogikan lebih lanjut bukankah seharusnya apa-apa yang kita lakukan di bulan Ramadhan diimplementasikan pada bulan-bulan lain seperti seorang Atlet mempraktekkan hasil latihannya dalam kejuaraan?

Oleh karena itu, janganlah kita hanya kuat beribadah ketika bulan Ramadhan saja. Kalau hanya saat bulan Ramadhan saja kita rajin, bukankah berarti Ramadhan kita tak bermakna? Janganlah kita menjadi “orang Indonesia yang orangnya musiman” dan berbangga dengan berapa banyak amalan yang kita kerjakan, berapa banyak kita berinfaq, berapa kali kita khatam, atau malah berbangga dengan berapa “balapan khatam” yang kita menangkan karena semua akan percuma bila setelah selesai bulan Ramadhan kembali hilang amalan-amalan baiknya.

Mari kita maknai bulan Ramadhan ini semaksimal mungkin dan menjadikan kita siap menghadapi godaan-godaan yang luar biasa hebatnya setelah ini karena sesungguhnya ujian sesungguhnya bukanlah di bulan Ramadhan melainkan bulan-bulan setelah ini hingga kita bertemu Ramadhan selanjutnya (tentunya, bila masih diberi kesempatan oleh Allah swt). This is not the end.
“Cause you don’t know what you’ve got until it’s gone”



((Special thanks to kak Ilham :):) ))

7.03.2015

Cadangkan Saja Messi!

Tak bisa dipungkiri, titik balik kebangkitan Manchester United musim lalu terjadi karena kartu merah Angel Di Maria saat pertandingan FA Cup vs Arsenal. Kartu merah yang pada awalnya disayangkan tapi menjadi berkah bagi United.

Dengan absennya Di Maria, harus ada pemain lain yang menggantikannya di sayap kiri padahal sebelumnya ia terus dimainkan. Muncul lah 1 dari 3 Unholy Trinity United, Ashley Young, yang hingga akhir musim terus memainkan peran kunci menyisir sayap kiri United. Hasilnya tak main-main. Spurs, Liverpool dan bahkan Manchester City ditumbangkan hingga United berhasil mengunci 1 tiket UCL 2015/2016.

Periode setelah kartu merah itu, meskipun telah selesai hukumannya Di Maria tetap dicadangkan dan menjadi supersub. Ia bahkan menyumbangkan beberapa assist yang dikonversi menjadi gol indah oleh Mata vs Liverpool dan Rooney vs Aston Villa. Tapi permainan United menjadi lebih cair dan efektif karena tak terpusat di Di Maria yang ketika mendapat bola malah sering lepas bolanya entah karena salah umpan atau kalah secara fisik padahal dirinya sangat diharapkan membangkitkan permainan United seperti yang dilakukannya bersama Real Madrid pada 2013/2014. Statistik akhir Di Maria akhirnya tercatat 3 gol dan 11 assist. Not bad.

-------------------------------------------

Selama ini di kesebelasan negara (sangara) Argentina, Messi terus menjadi pemain inti dan pusat permainan dengan harapan ia bisa memberikan kontribusi magisnya seperti yang terjadi ketika ia bermain dengan Barcelona selama ini. Catatannya di Argentina tak buruk-buruk amat memang dengan 46 gol dari 101 penampilan tapi apakah penampilannya maksimal? Semua pastinya menjawab "tidak maksimal" meski mendapat 4 gelar MVP dalam 5 match terakhirnya bersama sangara Argentina. Sebagai “Dewa” “yang datang dari dunia lain” penampilannya tak tergolong maksimal dan tak juga mengangkat permainan sangara Argentina.
Messi Struggling with Argentina NT

Messi menjadi korban dari ke"dewa"annya sendiri. Dikarenakan dirinya begitu ditakuti, perhatian semua tim lawan menjadi "bagaimana cara menghentikan Messi" dan karenanya ia selalu dijaga ketat. Bagaimana pun penjagaan lawan pada Messi tetap saja Messi gotta be Messi, kan?

Jika kita menilik kembali apa yang terjadi dengan Di Maria dengan Manchester United-nya, maka cadangkan saja Messi!

Terus dimainkannya Messi membuat potensi beberapa pemain lain (yang tak kalah bagusnya) terpendam. Contohnya bila Messi benar dicadangkan dan tetap menggunakan 4-3-3 maka kemungkinan posisi yang ditinggalkan Messi akan diisi Javier Pastore yang bersama PSG tampil gemilang di posisi yang sama. Bisa juga menggunakan Lavezzi atau Lamela. Tak menutup peluang mereka bisa menjadi Podolski-nya Argentina*. Lalu di Midfield bisa menggunakan Ever Banega yang baru saja menjuarai UEFA Cup bersama Sevilla atau Gago yang kini berseragam Boca Junior. Atau bahkan kalau berani variasi ke 4-4-2 (pada dasarnya bukan saat yang tepat, sih) bisa memainkan duet Aguero dengan Higuain atau Tevez di depan.

Pada dasarnya Argentina sebelum masuk ke Copa sudah bermain tanpa Messi di pertandingan uji coba terakhir melawan Bolivia dan hasilnya mereka menang besar 5-0. Memang Bolivia bukan tim kuat, tapi tetap saja, kan?

Efek dalam Pertandingan

Secara permainan, sangara Argentina pasti tidak akan berubah banyak karena memang skuad yang dimiliki sangat mumpuni. Justru, seperti yang tadi sudah diuraikan, mungkin Argentina akan lebih menyeramkan lagi.  Masalah justru akan muncul bagi tim lawan. Kenapa?

Tak lain dan tak bukan, tim lawan mulai dari Manager sampai pemain (terutama Defender) pasti bingung karena Messi justru tidak dimainkan padahal strategi utama mereka pasti adalah bagaimana cara mematikan Messi. Pastinya akan muncul keraguan bagi tim lawan untuk bermain di menit-menit awal dan pada titik ini adalah celah bagi Argentina mencuri gol cepat.

Bahkan bila tim lawan malah senang karena Messi tidak dimainkan maka mereka akan terdorong untuk lebih berani menyerang karena toh tak ada sang Alien yang memaksa mereka bertahan lebih dalam. Maka dalam hal ini, setidaknya bek sayap kiri lawan akan lebih sering maju dan meninggalkan lubang kosong. Bayangkan saja apa yang akan terjadi.

Pelatih lawan pun akan menjadi waswas kapan Messi akan dimainkan. Ketika sudah dimainkan (anggaplah menit 60-70an) maka stamina pemain bertahan lawan sudah terkuras habis dan akan lebih mudah bagi Messi melakukan pekerjaannya kemudian menyegel kemenangan Argentina.

Masalah Messi adalah kapten sangara Argentina mungkin satu factor yang membuat ide ini sulit terwujud. Namun Mascherano, yang merupakan kapten sebelum Messi, masih menjadi andalan lini tengah Argentina dan bahkan sering memberi instruksi taktik selain dari Tata Martino sendiri. Di partai vs Bolivia sendiri Di Maria yang menjadi kapten. Kalau Tata Martino mau sedikit bertaruh dengan timnya, bisa saja sebenarnya kan?
-----------------------------------------------------

Bagaimanapun juga 4 gelar Man of the Match dalam 5 pertandingan terakhir bukan hal sembarangan dan mungkin memang hanya Alien yang bisa mencapainya. Tapi akan sangat menarik jika Messi benar-benar dicadangkan.

Pada akhirnya memang tidak ada pemain yang lebih besar dari tim.



7.01.2015

Ada Apa dengan Kolombia?

Okay, this time gue mau ngebahas tentang kiprahnya Kolombia di Copa America 2015. Mungkin secara global Kolombia bukan negara yang terkenal-terkenal amat. Malah mungkin lebih terkenal Venezuela. Kalaupun ditanya Kolombia ada di sebelah mananya Brazil pun pasti harus buka peta dulu (selamat senyum-senyum sendiri :):) )

Gimanapun juga, Kolombia jadi salah satu unggulan buat jadi Juara atau setidaknya jadi petarung kuat di Copa America 2015 yang diadakan di Chile. Apalagi mereka bisa dibilang sedang berada dalam Golden Age nya seperti Belgia dengan 15 dari 21 pemain yang dipanggil main di Eropa (!). Dari James Rodriguez, Falcao, Cuadrado, Bacca, dan masih banyak lagi. Berikut daftar skuadnya:



Tapi bahkan dengan kekuatan begitu Kolombia hanya bisa mencetak 1 gol dari 4 pertandingan(!). Dan semakin 'mengenaskan' lagi adalah bahwa yang bukan Striker atau Midfielder top class itu tapi malah Centre-Half yang baru direkrut Inter, Jeison Murillo. Padahal bisa dibilang lini serang Kolombia lebih baik dari tim unggulan, Brazil. Akhirnya di Group Stage cuma ngeraih 4 poin dan lolos sebagai peringkat 3 di Group C. Melawan Argentina di Quarter Final mereka bertahan total dan kalah di Adu Penalti. How come?

Inkonsistensi Jose Pekerman

Jose Pekerman adalah pelatih Kolombia sejak 2012. Sejak dulu dia dikenal sebagai pelatih yang kontroversial dalam hal pemilihan pemain. Ketika menukangi sangara Argentina pada Piala Dunia 2006 di Jerman ia bahkan tak mengikutsertakan Javier Zanetti dan Walter Samuel yang sedang dalam masa jayanya. Dia juga terkenal sebagai pelatih yang senang bereksperimen.

Ketika ia membesut sangara Argentina U-20 di U-20 World Cup dalam fase awal kariernya, kegemarannya bereksperimen dengan pemain muda membawa hasil positif. 3 gelar World Cup pada 1995, 1997 dan 2001. Masalah muncul ketika dia ditarik ke sangara Argentina Senior. Di Piala Dunia 2006, Argentina hanya bisa mencapai Quarter Final dan ia pun dihujat habis-habisan karena di saat perlu ngejar ketinggalan gol dari Jerman (1-0) ia malah masukin Cambiasso yang defensive-minded menggantikan Riquelme. Akhirnya Argentina tersingkir dan Pekerman mundur dari jabatannya.

Kegemarannya untuk bereksperimen dibawa terus ke tim Kolombia dan ternyata hasilnya tidak sesuai dengan yang dia harapkan. Menjelang Piala Dunia 2014 ia mencoba 2 formasi yakni 4-4-1-1 dan 4-2-2-2. Formasi kedua memberikan hasil yang lebih baik secara hasil dan permainan tapi dia terus memaksakan penggunaan 4-4-1-1 sampai harus turun ke peringkat 3 di kualifikasi Piala Dunia 2014.

Apa dampaknya pada tim Kolombia sampai saat ini? Hingga saat ini Kolombia masih belum menemukan ritme dan cara bermain yang tepat karena terus menerus melakukan perubahan pola permainan. Memang di Piala Dunia 2014 Kolombia bermain atraktif sampai akhirnya dikalahin Brazil di Quarter Final, tapi permainan Kolombia masih cenderung menunggu dan hanya mengandalkan serangan balik kilat. Ketika lawan Argentina kemarin mereka malah bertahan total. Bahkan ketika menghadapi tim non-unggulan semacam Venezuela pun bermain bertahan dan mengandalkan serangan balik kilat lewat Cuadrado. Akhirnya mereka secara mengejutkan kalah 1-0.

Kita -orang awam- sendiri ketika melihat daftar skuad ini sedari awal pasti sudah bisa memahami tim ini memiliki potensi besar, setidaknya menjadi tim Kuda Hitam seperti Peru. Tapi apa daya...


Kurang Maksimalnya Pemain di Klub

Pada dasarnya tak banyak hal yang perlu dijelaskan lagi dalam bagian ini. Kapten Kolombia, Radamel Falcao hanya bisa mencetak 4 gol di Manchester United dari 29 penampilan di Premier League. Sebagian besar penampilannya memang dimulai dari bench, tapi tetap saja, Falcao should have been a Falcao, shouldn't he? Di sisi ini bisa dibilang ada kesalahan pribadi dari Falcao yakni ketika ia baru sembuh dari cedera ACL dan belum menemukan touch-nya kembali, ia memutuskan pindah ke United di Premier League yang keras secara fisik. Padahal ACL adalah mimpi buruk setiap pemain Sepakbola dan tentunya setelah mengalami cedera itu akan ada traumanya. Bahkan Theo Walcott butuh 2 tahun untuk menemukan kembali performanya di Arsenal. Dampaknya paling terasa bagi lini serang Kolombia. Sebagai kapten ia menjadi pilihan pertama untuk dimainkan tapi belum menemukan form-nya dan serangan Kolombia menjadi tumpul. Jackson Martinez sebenarnya memberi opsi lain, tapi, kembali ke Pekerman.

Tak hanya itu, Juan Cuadrado yang menjadi andalan Kolombia di sisi kanan lini serang jarang sekali dimainkan oleh Mourinho di Chelsea. Hampir semua penampilannya tak lebih dari 30 menit. Padahal ketika di Fiorentina dia jadi andalannya Vicenzo Montella dan jadi rebutan klub-klub Eropa di 2x bursa transfer.


Belum lagi James Rodriguez, yang sebenarnya pun tak buruk-buruk amat, tapi di Real Madrid harus mengalah pada Ronaldo dan Bale, bahkan pada Jese hingga terpaksa bermain sebagai gelandang serang tengah (CAM) padahal selama ini ia bermain maksimal ketika menjadi gelandang sayap atau penyerang sayap. Maka ketika dia dipindahkan lagi ke sayap di sangara Kolombia ia harus beradaptasi ulang karena setahun full main sebagai CAM. Ditambah pola permainan Kolombia yang belum jelas, James yang harusnya jadi andalan Kolombia kontribusinya malah minim.

---------------------------------

Suatu hal yang disayangkan sangara Kolombia hanya sampai disitu langkahnya. Banyak hal yang perlu diperbaiki dari seluruh aspek sangara Kolombia dari Sport Director, Coach, Staff hingga pemain apalagi dengan status mereka menduduki peringkat 2 FIFA per Juni 2015. Kita semua pecinta bola pastinya menantikan permainan atraktif ala Amerika Latin dari sangara Kolombia di kesempatan selanjutnya, kan?

Thats my opinion of what happened to Colombia on Copa America 2015, Any other thoughts of why? Post it on the comment section!

Ciao!

New Comer

HELLO THERE! I'm Syafiq Syaikhul Akbar. Call me Syafiq.

Alhamdulillah udah lulus dari SMAN 39 Jakarta (yang nompo Kopassus itulo) dan udah diterima juga di Universitas Brawijaya, Malang untuk Prodi Teknik Geofisika FMIPA.

Keeping my opinion for myself is not really a good thing and i usually have my thought on anything. So, in order of that i made this blog (besides cs i've got nothing to do, lol). Maafkan kalo bahasannya terlalu serius wkwk tapi biasanya opini gue berdasar kok (peace)

Gonna need feedbacks!
As The Comment's hosts said, jangan dibuka blognya! (hmm)

Adios!