7.01.2015

Ada Apa dengan Kolombia?

Okay, this time gue mau ngebahas tentang kiprahnya Kolombia di Copa America 2015. Mungkin secara global Kolombia bukan negara yang terkenal-terkenal amat. Malah mungkin lebih terkenal Venezuela. Kalaupun ditanya Kolombia ada di sebelah mananya Brazil pun pasti harus buka peta dulu (selamat senyum-senyum sendiri :):) )

Gimanapun juga, Kolombia jadi salah satu unggulan buat jadi Juara atau setidaknya jadi petarung kuat di Copa America 2015 yang diadakan di Chile. Apalagi mereka bisa dibilang sedang berada dalam Golden Age nya seperti Belgia dengan 15 dari 21 pemain yang dipanggil main di Eropa (!). Dari James Rodriguez, Falcao, Cuadrado, Bacca, dan masih banyak lagi. Berikut daftar skuadnya:



Tapi bahkan dengan kekuatan begitu Kolombia hanya bisa mencetak 1 gol dari 4 pertandingan(!). Dan semakin 'mengenaskan' lagi adalah bahwa yang bukan Striker atau Midfielder top class itu tapi malah Centre-Half yang baru direkrut Inter, Jeison Murillo. Padahal bisa dibilang lini serang Kolombia lebih baik dari tim unggulan, Brazil. Akhirnya di Group Stage cuma ngeraih 4 poin dan lolos sebagai peringkat 3 di Group C. Melawan Argentina di Quarter Final mereka bertahan total dan kalah di Adu Penalti. How come?

Inkonsistensi Jose Pekerman

Jose Pekerman adalah pelatih Kolombia sejak 2012. Sejak dulu dia dikenal sebagai pelatih yang kontroversial dalam hal pemilihan pemain. Ketika menukangi sangara Argentina pada Piala Dunia 2006 di Jerman ia bahkan tak mengikutsertakan Javier Zanetti dan Walter Samuel yang sedang dalam masa jayanya. Dia juga terkenal sebagai pelatih yang senang bereksperimen.

Ketika ia membesut sangara Argentina U-20 di U-20 World Cup dalam fase awal kariernya, kegemarannya bereksperimen dengan pemain muda membawa hasil positif. 3 gelar World Cup pada 1995, 1997 dan 2001. Masalah muncul ketika dia ditarik ke sangara Argentina Senior. Di Piala Dunia 2006, Argentina hanya bisa mencapai Quarter Final dan ia pun dihujat habis-habisan karena di saat perlu ngejar ketinggalan gol dari Jerman (1-0) ia malah masukin Cambiasso yang defensive-minded menggantikan Riquelme. Akhirnya Argentina tersingkir dan Pekerman mundur dari jabatannya.

Kegemarannya untuk bereksperimen dibawa terus ke tim Kolombia dan ternyata hasilnya tidak sesuai dengan yang dia harapkan. Menjelang Piala Dunia 2014 ia mencoba 2 formasi yakni 4-4-1-1 dan 4-2-2-2. Formasi kedua memberikan hasil yang lebih baik secara hasil dan permainan tapi dia terus memaksakan penggunaan 4-4-1-1 sampai harus turun ke peringkat 3 di kualifikasi Piala Dunia 2014.

Apa dampaknya pada tim Kolombia sampai saat ini? Hingga saat ini Kolombia masih belum menemukan ritme dan cara bermain yang tepat karena terus menerus melakukan perubahan pola permainan. Memang di Piala Dunia 2014 Kolombia bermain atraktif sampai akhirnya dikalahin Brazil di Quarter Final, tapi permainan Kolombia masih cenderung menunggu dan hanya mengandalkan serangan balik kilat. Ketika lawan Argentina kemarin mereka malah bertahan total. Bahkan ketika menghadapi tim non-unggulan semacam Venezuela pun bermain bertahan dan mengandalkan serangan balik kilat lewat Cuadrado. Akhirnya mereka secara mengejutkan kalah 1-0.

Kita -orang awam- sendiri ketika melihat daftar skuad ini sedari awal pasti sudah bisa memahami tim ini memiliki potensi besar, setidaknya menjadi tim Kuda Hitam seperti Peru. Tapi apa daya...


Kurang Maksimalnya Pemain di Klub

Pada dasarnya tak banyak hal yang perlu dijelaskan lagi dalam bagian ini. Kapten Kolombia, Radamel Falcao hanya bisa mencetak 4 gol di Manchester United dari 29 penampilan di Premier League. Sebagian besar penampilannya memang dimulai dari bench, tapi tetap saja, Falcao should have been a Falcao, shouldn't he? Di sisi ini bisa dibilang ada kesalahan pribadi dari Falcao yakni ketika ia baru sembuh dari cedera ACL dan belum menemukan touch-nya kembali, ia memutuskan pindah ke United di Premier League yang keras secara fisik. Padahal ACL adalah mimpi buruk setiap pemain Sepakbola dan tentunya setelah mengalami cedera itu akan ada traumanya. Bahkan Theo Walcott butuh 2 tahun untuk menemukan kembali performanya di Arsenal. Dampaknya paling terasa bagi lini serang Kolombia. Sebagai kapten ia menjadi pilihan pertama untuk dimainkan tapi belum menemukan form-nya dan serangan Kolombia menjadi tumpul. Jackson Martinez sebenarnya memberi opsi lain, tapi, kembali ke Pekerman.

Tak hanya itu, Juan Cuadrado yang menjadi andalan Kolombia di sisi kanan lini serang jarang sekali dimainkan oleh Mourinho di Chelsea. Hampir semua penampilannya tak lebih dari 30 menit. Padahal ketika di Fiorentina dia jadi andalannya Vicenzo Montella dan jadi rebutan klub-klub Eropa di 2x bursa transfer.


Belum lagi James Rodriguez, yang sebenarnya pun tak buruk-buruk amat, tapi di Real Madrid harus mengalah pada Ronaldo dan Bale, bahkan pada Jese hingga terpaksa bermain sebagai gelandang serang tengah (CAM) padahal selama ini ia bermain maksimal ketika menjadi gelandang sayap atau penyerang sayap. Maka ketika dia dipindahkan lagi ke sayap di sangara Kolombia ia harus beradaptasi ulang karena setahun full main sebagai CAM. Ditambah pola permainan Kolombia yang belum jelas, James yang harusnya jadi andalan Kolombia kontribusinya malah minim.

---------------------------------

Suatu hal yang disayangkan sangara Kolombia hanya sampai disitu langkahnya. Banyak hal yang perlu diperbaiki dari seluruh aspek sangara Kolombia dari Sport Director, Coach, Staff hingga pemain apalagi dengan status mereka menduduki peringkat 2 FIFA per Juni 2015. Kita semua pecinta bola pastinya menantikan permainan atraktif ala Amerika Latin dari sangara Kolombia di kesempatan selanjutnya, kan?

Thats my opinion of what happened to Colombia on Copa America 2015, Any other thoughts of why? Post it on the comment section!

Ciao!

No comments:

Post a Comment